Jember – Malam itu suasana sebuah kedai kopi di sudut Kota Jember terasa hangat. Di tengah hiruk pikuk pengunjung dan alunan musik yang samar terdengar, seorang pria berkacamata hitam melangkah masuk dengan senyum ramah.
“Sudah tadi?” sapanya singkat sebelum duduk dan memulai cerita panjang tentang hidupnya.
Pria itu adalah Dima Akhyar, sosok yang baru sehari dilantik sebagai Direktur Umum dan Keuangan PDP Kahyangan Jember. Di balik posisinya hari ini, tersimpan perjalanan hidup penuh tikungan tajam, jatuh bangun, hingga titik terendah yang nyaris menghancurkannya.
“Saya cuma ingin mewujudkan Jember yang rasional,” ujar Dima sambil menyeruput jus alpukat pesanannya.
Lahir dari keluarga pendidik dengan kultur Madura yang kuat dan tradisi religius dari keluarga ulama, Dima tumbuh di lingkungan yang akrab dengan dunia literasi. Sosok paling berpengaruh dalam hidupnya adalah sang kakek, KH Danil Adimenggala, tokoh ulama Jember yang turut menggagas pembangunan Masjid Jami’ Baitul Amin.
Di rumah sang kakek, Dima kecil mengenal banyak bacaan. Buku agama, filsafat, hingga literatur asing berbahasa Inggris, Belanda, dan Jerman ia lahap tanpa pilih-pilih.
“Semua saya baca. Tapi paling suka novel,” katanya sambil tertawa kecil.
Meski lahir dari keluarga berkecukupan dengan beberapa mobil terparkir di rumah, hidup Dima ternyata tidak selalu berjalan mulus. Ia menempuh pendidikan di Yayasan Al-Furqon sebelum melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Jember.
Saat mahasiswa, jiwa aktivismenya tumbuh kuat. Ia aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hingga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Idealisme menjadi napas hidupnya kala itu.
“Dulu saya sangat idealis dan cenderung berpaham kanan,” kenangnya.
Namun kehidupan perlahan mengajarkannya bahwa dunia nyata tidak sesederhana teori dalam buku.
Keputusan menikah muda saat masih semester delapan menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupnya. Tanggung jawab keluarga membuat Dima harus segera bekerja dan meninggalkan kenyamanan masa muda.
Berbagai profesi ia lakoni. Mulai marketing asuransi, sales buku sekolah, hingga menjadi sales motor Suzuki pada 1996 dengan gaji sekitar Rp125 ribu per bulan.
Bagi Dima, dunia sales adalah sekolah hidup paling keras.
“Bayangkan, aktivis idealis, sarjana hukum, harus keliling mengetuk pintu rumah jual motor,” ujarnya sambil tersenyum mengenang masa lalu.
Namun justru di jalanan keras itulah mentalnya ditempa. Ia belajar menghadapi penolakan, membaca karakter manusia, dan memahami bahwa hidup membutuhkan lebih dari sekadar idealisme.
Tak butuh waktu lama, Dima menjelma menjadi salah satu sales terbaik Suzuki. Dalam satu bulan, ia pernah menjual hingga 33 unit motor di masa ketika sistem leasing belum marak.
Prestasinya membuat ia dipercaya membuka dealer baru di Bondowoso. Di wilayah yang dianggap tidak potensial itu, Dima kembali membuktikan kemampuannya hingga cabang tersebut menjadi salah satu yang terbaik.
Namun badai krisis moneter 1998 mengubah segalanya. Perusahaan tempatnya bekerja mulai melakukan rasionalisasi besar-besaran. Melihat banyak keputusan yang dianggap tidak lagi objektif, Dima memilih mundur.
“Saya masuk baik-baik, maka saya ingin keluar baik-baik,” katanya.
Setelah keluar dari dunia otomotif, hidup kembali jungkir balik. Ia pernah menjadi pendamping petani pada era Presiden BJ Habibie, hidup bersama masyarakat akar rumput, mempelajari pertanian, hingga membangun pasar distribusi hasil tani ke Bali.
Kariernya terus berpindah. Dari perusahaan leasing, bisnis bahan bangunan, hingga menjadi kolektor kendaraan kredit macet yang ia sebut sebagai “preman berdasi”.
Namun dari pekerjaan itu pula ia belajar memahami manusia lebih dalam.
“Saya selalu memilih komunikasi. Anehya, kendaraan bisa saya tarik tanpa orang marah,” ucapnya.
Di balik segala pengalaman keras itu, ada satu peristiwa yang menjadi titik paling kelam dalam hidupnya.
Saat anak pertamanya lahir melalui operasi sesar, Dima sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar rumah sakit.
Malam itu, di Masjid Rumah Sakit Kaliwates, untuk pertama kalinya ia menangis.
“Besok istri sudah boleh pulang, artinya saya harus bayar. Dan saya tidak punya uang sama sekali,” kenangnya lirih.
Momen tersebut mengubah cara pandangnya tentang hidup. Sejak saat itu, baginya kerja keras bukan lagi soal ambisi, melainkan kewajiban moral untuk melindungi keluarga.
“Yang membuat saya bangkit ya keluarga kecil saya,” katanya.
Tekanan hidup membuat Dima semakin lentur menghadapi kenyataan. Ia belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, dan manusia tidak mungkin bisa mengendalikan seluruh penilaian publik.
Memasuki 2005, Dima mulai membangun bisnis material bangunan, konstruksi, hingga konveksi. Insting bisnisnya berkembang kuat. Ia berani mengambil risiko besar, termasuk kontrak material bernilai besar yang bisa membuat stok menumpuk jika gagal terjual.
“Kalau enggak berani ambil risiko, ya enggak akan besar,” ujarnya.
Bagi Dima, kesuksesan bukan lagi soal jabatan atau kemewahan.
“Sukses itu tenang. Mampu menciptakan kedamaian dari hal-hal di sekitar,” katanya.
Dunia politik kemudian datang perlahan. Ia aktif di berbagai diskusi demokrasi dan pembangunan daerah sebelum akhirnya bergabung dengan Partai Golkar menjelang 2020.
Di sana, ia dipercaya membantu konsolidasi partai dan mengaku berhasil ikut mendongkrak perolehan kursi Golkar di Jember.
Namun pengalaman politik justru membuatnya semakin prihatin.
“Politik kita masih terlalu pragmatis. Value jadi barang mewah,” keluhnya.
Ia menyebut Jember sebagai “raksasa yang tertidur”, daerah dengan potensi besar tetapi belum sepenuhnya bangkit.
Kini, pada 2026, Dima dipercaya memimpin sektor strategis di PDP Kahyangan Jember sebagai Direktur Umum dan Keuangan.
Di tengah kesibukan rapat dan tanggung jawab perusahaan daerah, ia tetap menikmati hal-hal sederhana: membaca buku, berdiskusi panjang, hingga bereksperimen di dapur.
“Kalau soal rasa, mungkin masakan nyonya kalah,” candanya disambut tawa.
Di usianya sekarang, Dima mengaku tidak lagi mengejar popularitas ataupun kekuasaan. Yang ia cari hanyalah ketenangan hidup.
“Politik itu seni berkompromi. Tapi jangan sampai membelokkan tujuan,” tegasnya.
Menjelang akhir perbincangan, Dima sempat terdiam lama ketika ditanya soal kekuasaan. Lalu ia menjawab singkat, namun penuh makna.
“Kekuasaan itu dihisab.”
Kalimat sederhana itu seolah menjadi inti perjalanan hidupnya: bahwa setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi, dan setiap manusia pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan jalan hidup yang dipilihnya sendiri.
