Jember – Sebelum memulai usaha bikin roti, Muhammad Timbul mengelola perahu milik orang tua. Seiring berjalannya waktu ada beberapa kendala sehingga ia tidak bisa melanjutkan dan mengurus perahu lagi.
“Akhirnya kami dan keluarga sepakat untuk menjual perahu dikarenakan biaya oerasional makin besar sulitnya cari Anak Buah Kapal (ABK),” ungkap Mamat sapaan akrabnya saat di temui di sela-sela kesibukannya, Sabtu (12/11/2022).

Saat itu, menurut Mamat hasil tangkapan atau pemasukan tidak bisa memenuhi kebutuahan operasiaonal bahkan setiap kali melaut hasil minus.
“Pada tahun awal 2018 kami coba2 untuk bukin usaha kue/roti dikarenankan sudah tidak pekerjaan lagi,” ucapnya.
Bisnis kue yang ia rintis mulai membuahkan hasil. Berbagai pesenan dari dalam desa dan luar desa mulai berdatangan.
“Alhamdulillah, ternyata kue/roti kami bisa diterima dikalangan masyarakat,” kesannya.
Untuk pemasaran, ia memasarkannya dari sekolah-sekolah sekitar desa puger wetan dan puger kulon.
“Sampai saat ini alhamdulillah bisa nerima orderan berbagai macam acara molai dari hajatan ,ulang tahun ,sunatan sampai keacara pernikahan,” imbuhnya.
Awalnya untuk bikin adonan ia harus ke desa tetangga, karena masih belum punya mesin mixer atau pengaduk adonan sendiri. Seiring berjalannya waktu saat ini memiliki dua mesin mixer.
“Alhamdulillah sekarang kami mempunyai dua mesin pengaduk adonan dan juga banyak dari warga sekitar dan dari desa tetangga yg menggunakan jasa kita untuk bikin adonan roti kepada kita,” terangnya.
Sebenar kami mengalami kendala dipermodalan sampai saat ini usaha kami kita kerjakan dirumah atau home idustri harapakan agar mendapat bantuan pemerintah.
“Semoga kendala permodalan yang kami alami mendapat solusi,” tandasnya.
