Malang – Dari lautan pesisir selatan Kabupaten Malang, sekelompok mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) berhasil mengubah garam rakyat menjadi dua produk inovatif: lulur berbasis garam dan kopi, serta pupuk organik cair dari limbah bittern. Karya ini tak hanya menghadirkan solusi ekologis, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo.
Program ini merupakan bagian dari kegiatan Mahasiswa Membangun Desa – Doktor Mengabdi (MMD-DM), yang dilaksanakan sepanjang Juli 2025. Dipimpin oleh Prof. Andi Kurniawan, M.Sc., D.Sc., program ini bertujuan mewujudkan pengabdian masyarakat berbasis prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan mengusung inovasi berbasis keberlanjutan.
Produk lulur garam dan kopi dikembangkan dari bahan-bahan lokal yang aman dan ramah lingkungan, mengandung gliserin serta pengawet alami non-sintetis. Berfungsi sebagai eksfoliator alami, lulur ini dirancang untuk menyegarkan kulit dan memperlancar sirkulasi darah, menjadikannya produk kecantikan yang potensial dikembangkan sebagai unggulan desa. Inisiatif ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 8 tentang pertumbuhan ekonomi inklusif.
Sementara itu, limbah bittern—biasanya terbuang sia-sia—diolah menjadi pupuk organik cair yang mengandung mineral penting seperti magnesium, mangan, dan klorida. Produk ini tengah diuji coba sebagai solusi pertanian ramah lingkungan, sesuai dengan SDGs poin 15 yang fokus pada konservasi ekosistem daratan.
“Selama ini kami hanya tahu garam untuk konsumsi. Ternyata bisa jadi lulur dan bahkan air sisanya bisa jadi pupuk,” kata Edi Santoso, Ketua KUGAR Sumberoto Makmur Sejahtera.
Edi mengakui inovasi tersebut telah mengubah cara pandang petani garam di desanya tentang potensi produk turunan.
Kepala Desa Sumberoto, Budi Utomo, juga menyatakan kebanggaannya. “Program ini membuka pintu ekonomi baru. Semoga kerja sama seperti ini bisa terus berlanjut,” ujarnya.
Tak hanya produksi, mahasiswa UB juga memberikan pelatihan teknis kepada petani dan ibu rumah tangga setempat, mulai dari pengolahan bahan, formulasi produk, hingga teknik pengemasan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UB menunjukkan kontribusi konkret dalam pemberdayaan desa berbasis ilmu pengetahuan dan potensi lokal yang berkelanjutan.
