Bondowoso – Dari tepi kolam, peluang ekonomi daerah mulai “dipancing”. Lomba mancing yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Bondowoso tidak hanya diarahkan sebagai hiburan masyarakat, tetapi mulai dilirik sebagai embrio kegiatan berskala lebih besar yang berpotensi memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bondowoso tersebut merupakan lomba mancing tingkat kabupaten pertama yang mereka gelar. Pelaksanaan perdana ini dimanfaatkan pemerintah daerah untuk membaca minat masyarakat sekaligus menguji kemungkinan pengembangan konsep kegiatan serupa pada masa mendatang. Sekitar 100 kilogram ikan lele ditebar ke dalam kolam untuk menyemarakkan lomba.
Kepala Disnakkan Bondowoso Hendri Widotono mengatakan penyelenggaraan pertama tersebut masih bersifat stimulan. Pihaknya ingin mengetahui seberapa besar ketertarikan masyarakat terhadap lomba mancing sebelum kegiatan dikembangkan ke skala yang lebih luas.
“Alhamdulillah hari ini kita bisa memasukkan agenda lomba mancing di HUT Kemerdekaan RI yang ke-81. Ini baru pertama kali kita mencoba lomba tingkat kabupaten, jadi sifatnya masih sebagai stimulan untuk melihat animo masyarakat,” ujar Hendri.
Respons masyarakat yang dinilai cukup tinggi menjadi modal awal bagi Disnakkan untuk merancang kegiatan lanjutan. Jika antusiasme tersebut dapat dipertahankan, lomba mancing dinilai memiliki peluang untuk tumbuh menjadi agenda yang mempertemukan masyarakat, komunitas pemancing, pelaku usaha hingga sponsor dalam satu ruang kegiatan.
Hendri juga memastikan pelaksanaan lomba perdana tersebut bukan bagian dari proyek pemerintah. Menurutnya, kegiatan tidak menggunakan pembiayaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sehingga penyelenggaraan kali ini lebih diarahkan sebagai uji coba awal.
“Ini murni tidak ada kegiatan proyek, tidak ada kegiatan APBD. Jadi ini hanya uji coba. Karena baru pertama kali, ke depan akan kita buat jauh lebih baik,” tegasnya.
Pengembangan lomba mancing bahkan tidak direncanakan berhenti setelah rangkaian peringatan HUT ke-81 RI. Disnakkan Bondowoso mulai mempersiapkan kemungkinan penyelenggaraan lomba mancing tingkat umum pada Oktober atau awal November 2026. Gagasan tersebut disebut telah dibicarakan bersama Wakil Bupati Bondowoso serta sejumlah pihak terkait.
Dalam rencana berikutnya, konsep lomba akan dibuat lebih terbuka dengan melibatkan komunitas pemancing, stakeholder, pihak ketiga dan sponsor. Skema kolaborasi itu diharapkan dapat memperbesar skala kegiatan tanpa menjadikan APBD sebagai satu-satunya sumber pembiayaan. Dukungan dari berbagai pihak juga dinilai dapat memperluas promosi serta meningkatkan daya tarik peserta dari luar daerah.
Disnakkan turut melihat adanya peluang pendapatan bagi daerah apabila penyelenggaraan lomba dikembangkan dengan skema kerja sama yang tepat. Kontribusi dari pihak ketiga dapat diarahkan menjadi pemasukan daerah, sementara pelaksanaan teknis lomba tetap dapat dikembangkan bersama sponsor dan komunitas.
“Intinya adalah meningkatkan PAD. Misalkan dengan pihak ketiga, PAD-nya saya minta Rp10 juta atau Rp15 juta. Selanjutnya silakan lomba dengan pihak ketiga atau teman-teman sponsor lainnya,” ungkap Hendri.
Selain mengejar manfaat ekonomi, pengelolaan kegiatan juga direncanakan lebih modern. Salah satu gagasan yang disiapkan adalah penerapan pendaftaran peserta secara daring. Sistem tersebut diharapkan mempermudah proses administrasi, memperluas jangkauan peserta sekaligus menjadi bagian dari upaya digitalisasi pengelolaan event di lingkungan Disnakkan.
Apabila dikemas secara konsisten, lomba mancing juga dapat memberikan efek ekonomi tidak langsung. Kehadiran peserta dan pengunjung berpotensi meningkatkan aktivitas pedagang makanan, penyedia perlengkapan memancing, pelaku usaha mikro hingga sektor jasa di sekitar lokasi kegiatan. Semakin luas cakupan peserta, semakin besar pula peluang perputaran ekonomi yang muncul selama penyelenggaraan.
Kolaborasi dengan komunitas pemancing dinilai penting karena kelompok tersebut memiliki jaringan peserta sekaligus pengalaman teknis dalam penyelenggaraan kompetisi. Sementara keterlibatan sponsor maupun pihak ketiga dapat memperkuat aspek hadiah, promosi dan fasilitas kegiatan sehingga lomba mempunyai daya tarik lebih besar.
Lomba mancing HUT ke-81 RI akhirnya menjadi titik awal untuk mengukur peluang tersebut. Dengan antusiasme masyarakat, pengelolaan profesional, promosi yang lebih luas serta dukungan lintas pihak, kegiatan ini berpeluang berkembang dari sekadar hiburan peringatan kemerdekaan menjadi agenda rutin yang memberi nilai ekonomi sekaligus tambahan pemasukan bagi Bondowoso.
