Mojokerto – Tradisi Syawalan atau yang lebih dikenal dengan Lebaran Ketupat masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa setiap kali bulan Syawal tiba. Seperti namanya, Lebaran Ketupat identik dengan hidangan khas bernama ketupat—berupa beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa muda (janur) dan direbus hingga matang. Sajian ini bukan sekadar makanan pelengkap, melainkan simbol penuh filosofi dalam budaya Jawa-Islam.
Masyarakat biasanya merayakan Lebaran Ketupat tujuh hari setelah Idul Fitri, tepatnya pada tanggal 7 atau 8 Syawal. Tradisi ini muncul sebagai penutup dari puasa sunnah enam hari yang dijalankan umat Islam pasca Idul Fitri, sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW dalam sunnahnya.
Jejak Sejarah Lebaran Ketupat
Lebaran Ketupat bukan sekadar perayaan turun-temurun, namun menyimpan jejak sejarah yang panjang. Menurut catatan NU Online, tradisi ini pertama kali dikenalkan oleh Sunan Kalijaga—salah satu dari Wali Songo yang memainkan peran besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.
Kala itu, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah dalam momen pasca-Ramadan: Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran merujuk pada hari pertama Syawal, saat umat Islam menunaikan salat Ied dan mengunjungi kerabat untuk bersilaturahmi serta saling memaafkan. Sementara itu, Bakda Kupat berlangsung seminggu kemudian, sebagai penanda berakhirnya puasa sunnah Syawal.
Ketika perayaan Lebaran Ketupat tiba, masyarakat Jawa biasanya memasak ketupat dan menyajikannya untuk keluarga maupun dibagikan kepada tetangga. Anyaman ketupat yang rumit dipercaya melambangkan kesalahan-kesalahan manusia, sementara warna putih yang tampak ketika ketupat dibelah menggambarkan hati yang telah bersih setelah memohon ampunan.
Beras sebagai isi ketupat dianggap sebagai simbol kemakmuran yang diharapkan datang setelah Idul Fitri. Di masa lalu, beberapa masyarakat juga mempraktikkan tradisi mistis dalam perayaan ini, meski kini tradisi tersebut semakin jarang dijumpai.
Filosofi di Balik Ketupat dan Lepet
Sunan Kalijaga menciptakan ketupat bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jawa, “kupat” merupakan singkatan dari ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan. Pengakuan ini biasa ditandai melalui tradisi sungkeman, di mana seseorang bersikap rendah hati, meminta maaf, dan memohon keikhlasan dari orang yang lebih tua.
Lebih dalam lagi, kupat juga mengandung makna dari konsep laku papat atau empat laku hidup, yakni:
- Lebaran – tanda berakhirnya puasa Ramadan.
- Luberan – ajakan untuk memperbanyak sedekah, terutama kepada fakir miskin.
- Leburan – makna penghapusan dosa karena saling memaafkan.
- Laburan – berasal dari kata “labur” (kapur), simbol upaya menjaga kesucian lahir dan batin.
Selain ketupat, tradisi ini juga lekat dengan makanan bernama lepet, yang terbuat dari ketan dan juga terbungkus janur. Jika ketupat menggambarkan pembersihan diri, maka lepet mengajarkan pentingnya menjaga kesalahan agar tidak terulang. “Lepet” berasal dari frasa Jawa silep kang rapet, yang berarti menutup rapat-rapat. Filosofinya, setelah meminta maaf, seseorang harus berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan dan mempererat ikatan persaudaraan—seperti lengketnya ketan dalam lepet.
Ketupat dan lepet sama-sama terbungkus dengan janur, yang berasal dari kata Arab ja’a an-nur—yang berarti “telah datang cahaya”. Dalam pandangan budaya Jawa, janur melambangkan petunjuk ilahi dan cahaya hati nurani yang menuntun manusia menuju kebaikan.
Menjaga Tradisi, Menjaga Makna
Lebaran Ketupat bukan hanya tradisi makan bersama. Di balik sajian ketupat dan lepet, tersimpan pesan-pesan moral dan spiritual yang mendalam. Mulai dari pentingnya pengakuan kesalahan, komitmen memperbaiki diri, hingga menjaga hubungan harmonis dengan sesama. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa silaturahmi dan penyucian hati adalah bagian penting dalam kehidupan umat Islam yang Haris terus terjaga dan Punta Nilai pada masyarakat Jawa dari generasi ke generasi.
