Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus menggencarkan upaya penurunan angka stunting melalui program Cap Jempol Stop Stunting. Kali ini, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kutim mengunjungi Desa Karangan Dalam, Kecamatan Karangan, guna memastikan program berjalan efektif dan data stunting diperbarui sesuai kondisi terkini.
Kunjungan ini dipimpin oleh Sekretaris TPPS Kutim, Achmad Junaidi B, bersama perwakilan dari berbagai Perangkat Daerah seperti Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), serta Dinas Pendidikan (Disdik). Selain itu, turut hadir Tim Pakar, TP-PKK, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI), dan sejumlah undangan lainnya.
Dalam wawancara dengan media, Achmad Junaidi menegaskan pentingnya pemutakhiran data untuk memastikan penurunan angka stunting lebih efektif. Saat ini, terdapat 318 Keluarga Risiko Stunting (KRS) dan 93 kasus stunting di Kecamatan Karangan. Ia optimistis angka ini dapat berkurang signifikan jika data diperbarui secara akurat.
“Data tahun 2021 dan 2022 sudah tidak relevan. Validasi harus dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK), Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), dan operator kabupaten,” ujar Junaidi.
Ia juga menginstruksikan agar segera dilakukan rapat koordinasi melalui Zoom Meeting guna membahas metode verifikasi data. Selain itu, kepala desa (kades) diminta untuk lebih proaktif dalam mengumpulkan data di tingkat RT tanpa menunggu rapat resmi.
“Kumpulkan keluarga berisiko stunting, duduk bersama, lalu publikasikan langkah ini agar menjadi contoh bagi wilayah lain,” tambahnya.
Salah satu apresiasi khusus diberikan kepada Camat Karangan, Madnuh, yang dinilai aktif dalam penanganan stunting. Madnuh menjadi satu-satunya camat dari 14 kecamatan yang dikunjungi TPPS yang menerapkan program Bapak Asuh Anak Stunting dengan melibatkan kepala desa secara langsung.
“Ini respons konkret terhadap program nasional Gentang-Genting. Kami harap praktik baik ini dapat diikuti camat lain di Kutai Timur,” ujar Junaidi.
Sebagai bagian dari kegiatan ini, TPPS Kutim menyerahkan 10 paket Pemberian Makanan Tambahan (PMT) syar’i dari BAZNAS Kutim kepada KRS, alat kerja untuk PLKB, serta ijazah Paket C dari Dinas Pendidikan kepada warga belajar. Tim juga melakukan kunjungan ke dua lokasi stunting di Desa Karangan Dalam untuk memverifikasi data dan memberikan edukasi kepada keluarga berisiko.
Sementara itu, Camat Karangan, Madnuh, menegaskan komitmennya dalam menurunkan angka stunting di wilayahnya sebelum memasuki masa pensiun pada 2026.
“Kami perintahkan seluruh kepala desa dan perusahaan untuk menjadi ‘bapak angkat’ bagi anak-anak stunting. Perusahaan yang beroperasi di sini tidak boleh mengabaikan tanggung jawab sosial mereka. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” tegas Madnuh.
Ia juga berencana segera mengundang seluruh pemangku kepentingan, termasuk perusahaan, kepala desa, Puskesmas, dan Badan Usaha Desa (BUD), untuk rapat koordinasi guna mempercepat penanganan stunting di Karangan.
“Ini pekerjaan besar, tapi kami yakin bisa diselesaikan. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang adalah tujuan mulia,” tambahnya.
Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta, Kecamatan Karangan optimistis dapat menjadi contoh keberhasilan penurunan stunting, tidak hanya di Kutai Timur, tetapi juga di tingkat nasional.
