Penganan manis khas Kutai Timur ini bernama Kue Gegicak—camilan kenyal berbahan dasar ketan putih, disiram saus gula merah kental, dan ditaburi kelapa muda parut. Meski sederhana, kue ini menyimpan filosofi mendalam: tentang kehangatan keluarga dan kekuatan tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat Kutai.
Kue Gegicak berasal dari bahasa Kutai yang meniru suara kunyahan makanan lengket dan kenyal, “ciak-ciak”. Kue ini biasa hadir di acara syukuran, kenduri, hingga momen keluarga yang hangat.
Terbuat dari tepung ketan putih yang dibentuk bulat dan direbus hingga mengapung, kue ini kemudian disiram saus kental dari gula merah, santan, dan daun pandan. Taburan kelapa muda parut yang sedikit asin menambah kompleksitas rasa dan keseimbangan gurih-manis. Biasanya disajikan di atas daun pisang atau tampah bambu untuk menjaga aroma tradisionalnya.
Setiap gigitannya memadukan tiga sensasi utama: manis legit dari gula merah, gurih lembut dari kelapa, dan kenyal lembut dari bola ketan. Tak heran jika Gegicak kerap dijadikan takjil Ramadan, camilan sore, hingga oleh-oleh khas dari Sangatta, Muara Wahau, atau Bengalon.
Bagi masyarakat Kutai, Gegicak bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol kelekatan, seperti ketan yang menyatu dengan gula dan kelapa—filosofi sederhana yang bermakna mendalam. Hidangan ini mengajarkan bahwa ikatan keluarga dan budaya harus dijaga, meski zaman terus berubah.
Kue Gegicak pernah masuk dalam daftar “10 makanan khas Kalimantan Timur” versi CNN Indonesia. Tak hanya itu, ia juga rutin tampil dalam Festival Mahakam dan Pesta Adat Erau. Dalam perayaan tersebut, Gegicak tampil sebagai kebanggaan kuliner lokal, bahkan mulai dimodifikasi jadi “cup dessert” kekinian oleh para pelaku UMKM.
Kini, di era digital, banyak yang mulai menjual Gegicak secara daring dengan kemasan menarik. Namun cita rasa aslinya tetap dipertahankan, membuktikan bahwa warisan rasa bisa berjalan berdampingan dengan inovasi zaman.
Kue Gegicak bukan hanya mengenyangkan lidah, tapi juga menyentuh hati. Jika Anda berkunjung ke Kutai Timur, carilah di pasar tradisional seperti Pasar Induk Sangatta atau gerai oleh-oleh di Teluk Lingga. Rasakan sendiri manisnya tradisi yang masih hidup hingga kini.
