Jombang – Gerakan intelektual tanpa restu kiai diibaratkan perahu tanpa kompas. Pesan itulah yang mengemuka dalam Pelantikan Bersama Pimpinan Anak Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PAC ISNU) se-Kabupaten Jombang Masa Khidmat 2025–2029, yang dirangkai dengan Rapat Kerja Cabang PC ISNU Jombang. Kegiatan tersebut digelar di Aula Kantor PCNU Jombang, Mojoagung, dan dihadiri jajaran pengurus serta perwakilan sarjana NU dari berbagai kecamatan.
Ketua Pengurus Cabang ISNU Kabupaten Jombang, Abdullah Aminuddin Aziz, menegaskan bahwa setiap gerak langkah kaum cendekiawan NU harus selalu berpijak pada bimbingan dan restu para kiai. Menurutnya, hubungan harmonis antara sarjana dan ulama merupakan fondasi utama agar perjuangan intelektual tetap memiliki ruh ke-NU-an.
Dalam sambutannya, Abdullah mengungkapkan bahwa terbentuknya 21 PAC ISNU di seluruh kecamatan se-Kabupaten Jombang merupakan ikhtiar strategis untuk menghidupkan kembali roda organisasi yang sempat vakum selama kurang lebih empat tahun. Proses ini, kata dia, bukan pekerjaan mudah dan membutuhkan kesabaran serta pendekatan yang tepat.
Ia menjelaskan bahwa pembentukan PAC tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menuntut pendekatan kultural dan spiritual.
“Kami harus sowan kepada para kiai di MWCNU se-Kabupaten Jombang agar kehadiran ISNU mendapat ridho dan arahan para masyayikh. Tanpa itu, gerakan kita akan kehilangan ruh,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Abdullah menekankan bahwa ISNU sebagai wadah para sarjana, akademisi, dan intelektual pesantren harus mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi umat. Ia menilai, aktivitas organisasi tidak cukup jika hanya berputar pada rapat dan agenda struktural, melainkan harus menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Untuk masa khidmat 2025–2029, PC ISNU Jombang menetapkan dua program prioritas sebagai pijakan awal kebangkitan gerakan intelektual Nahdliyyin. Program pertama adalah pendataan sarjana NU di seluruh Kabupaten Jombang, mulai dari lulusan strata satu hingga profesor. Pendataan ini bertujuan memetakan potensi sumber daya intelektual warga NU agar dapat disinergikan secara optimal.
“Dengan data yang valid, potensi keilmuan warga NU bisa kita konsolidasikan untuk kepentingan umat dan bangsa,” jelasnya.
Program kedua adalah penguatan Pusat Pemeriksa Halal (PPH) ISNU Jombang yang saat ini telah memiliki lebih dari 80 anggota aktif. Melalui PPH, ISNU berperan mendampingi pelaku UMKM agar produknya memenuhi standar sertifikasi halal, sekaligus mendorong penguatan ekonomi umat di tingkat lokal.
“Ini bentuk kontribusi konkret ISNU dalam mendukung ekonomi umat dan masyarakat Jombang,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Abdullah mengingatkan bahwa capaian akademik setinggi apa pun tidak akan bermakna tanpa kedekatan dengan para ulama.
“Ridho kiai adalah kunci keberkahan. Sarjana NU harus tetap tawadhu’ dan menjadikan para kiai sebagai kompas perjuangan,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh jajaran ISNU, baik di tingkat cabang maupun kecamatan, untuk memperkuat sinergi antara pesantren, kampus, dan masyarakat. Menurutnya, ISNU harus hadir sebagai penghubung yang mampu menjembatani tradisi keilmuan pesantren dengan dinamika akademik modern, sehingga keberadaan sarjana NU benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat.
