Bondowoso – Seperti pesan yang tak sampai utuh ke tujuan, distribusi menu makanan di SD Integral Bondowoso memunculkan tafsir beragam di kalangan wali murid. Isu rapel menu yang sempat bergulir dan menimbulkan tanda tanya akhirnya mendapat penjelasan resmi dari SPPG Badean 2 agar tidak berkembang menjadi kesimpulan yang keliru.
Kepala SPPG Badean 2 Bondowoso, Yulia Linda Lestari, menjelaskan bahwa distribusi menu makanan pada pekan ketiga Desember 2025 dilakukan berdasarkan perencanaan mingguan. Pada periode Senin hingga Sabtu (15–20 Desember 2025), pengiriman menu ke SD Integral Bondowoso hanya dilakukan satu kali, yakni pada Selasa (16/12/2025). Pengiriman tunggal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan karena menu yang disalurkan berupa menu kering yang diperuntukkan bagi konsumsi selama enam hari.
Menurut Yulia, kebijakan pengiriman menu kering dilakukan dengan mempertimbangkan daya tahan makanan, keamanan konsumsi, serta efisiensi distribusi. Menu kering dinilai lebih fleksibel karena dapat disimpan dalam waktu lebih lama tanpa mengurangi kualitas gizi. Dengan sistem tersebut, siswa tetap mendapatkan asupan sesuai perencanaan, meski distribusi tidak dilakukan setiap hari.
“Menu yang kami kirim memang sudah dirancang untuk kebutuhan satu pekan penuh. Jadi bukan berarti hanya satu hari saja siswa menerima jatah makanan,” kata Yulia dalam keterangannya, Minggu (21/12/2025).
Ia merinci, paket menu yang dibagikan kepada setiap siswa terdiri atas satu bungkus roti Mr Brad seberat 250 gram, dua butir telur bebek asin, masing-masing dua buah pisang, apel, dan jeruk, satu camilan kacang polong, serta satu kotak susu Ultra Milk berukuran 200 mililiter. Seluruh item tersebut telah dihitung sebagai jatah konsumsi selama enam hari sekolah.
Namun demikian, Yulia mengakui adanya kelalaian dalam proses komunikasi. Pihak SPPG tidak menyertakan penjelasan yang memadai kepada pihak sekolah maupun wali murid bahwa menu yang dibagikan merupakan rapel menu kering untuk satu pekan. Akibatnya, sebagian wali murid beranggapan menu tersebut hanya untuk konsumsi satu hari, sehingga muncul persepsi bahwa pengiriman makanan hanya dilakukan sekali dalam sepekan tanpa distribusi lanjutan.
Kesalahpahaman tersebut kemudian berkembang menjadi dugaan bahwa jatah menu untuk hari-hari berikutnya tidak disalurkan. Padahal, menurut SPPG, seluruh hak siswa telah dipenuhi sejak awal melalui paket menu rapel tersebut.
Menanggapi situasi itu, SPPG Badean 2 Bondowoso menyatakan bertanggung jawab penuh dan menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi internal. Yulia menegaskan bahwa ke depan, setiap pendistribusian menu akan selalu disertai informasi tertulis dan penjelasan yang jelas mengenai jenis menu, durasi konsumsi, serta mekanisme pembagian.
“Kejadian ini menjadi bahan evaluasi kami agar ke depan setiap distribusi menu disertai penjelasan yang jelas dan transparan, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir,” pungkasnya.
Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan hubungan komunikasi antara penyelenggara, sekolah, dan wali murid dapat terjalin lebih baik. SPPG juga berharap kepercayaan masyarakat terhadap program pemenuhan gizi siswa tetap terjaga, sekaligus menjadi pembelajaran penting bahwa transparansi informasi merupakan kunci keberhasilan layanan publik di lingkungan pendidikan.
