Mojokerto – Angin kencang yang menyapu Dusun Jeruk Kidul, Desa Banjarsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto pada Rabu sore (9/10/2025) meninggalkan kerusakan cukup serius pada sebuah kandang ayam petelur milik warga setempat. Cuaca ekstrem yang melanda secara tiba-tiba itu membuat bangunan kandang roboh dan memaksa aktivitas peternakan berhenti total.
Kandang tersebut diketahui milik Narhim, warga yang telah lama mengelola usaha peternakan ayam petelur di wilayah tersebut. Robohnya kandang akibat terpaan angin menyebabkan kerugian materi yang tidak sedikit, serta mengancam kelangsungan usaha yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarganya.
“Gimana lagi, yang namanya musibah atau bencana kita harus gimana lagi. Semoga pemerintah Kabupaten Mojokerto bisa memperhatikan terkait bencana yang menimpa usaha ayam ini,” ujar Narhim saat ditemui di lokasi kejadian.
Menurutnya, kandang yang roboh itu menampung ratusan ayam petelur siap produksi. Meski tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut, kerusakan kandang mengakibatkan hilangnya produktivitas harian dan kerugian yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Kepala Desa Banjarsari, Subagio, membenarkan peristiwa tersebut dan menyatakan keprihatinannya atas dampak cuaca ekstrem yang menimpa wilayahnya. Ia meminta agar pemerintah daerah dan instansi terkait segera memberikan perhatian, baik berupa bantuan material maupun pendampingan pemulihan usaha bagi warga terdampak.
“Yang namanya musibah, kita tidak tahu kapan datangnya. Saya berharap pemerintah terkait segera memperhatikan warga yang terkena bencana angin di Mojokerto,” kata Subagio, Kamis (9/10/2025).
Hingga Kamis siang, belum ada laporan korban luka maupun jiwa. Namun, kerusakan fisik pada kandang cukup berat sehingga tidak bisa lagi digunakan. Warga bersama perangkat desa melakukan pembersihan dan pendataan dampak kerusakan guna dilaporkan ke pihak kecamatan dan kabupaten.
Peristiwa ini menambah daftar bencana akibat cuaca ekstrem di Jawa Timur yang kerap terjadi di masa peralihan musim. Kondisi geografis dan lemahnya struktur bangunan di wilayah pedesaan menjadi faktor rentan terhadap kerusakan, terutama saat terjadi angin kencang dan hujan deras.
Narhim berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat segera menyalurkan bantuan untuk memperbaiki kandang dan menyediakan kebutuhan pakan serta peralatan produksi yang rusak. Ia juga menginginkan adanya skema bantuan usaha mikro untuk memulihkan kembali kegiatan peternakan yang terhenti akibat bencana ini.
“Saya hanya ingin bisa mulai lagi. Kalau kandangnya tidak dibangun ulang, ayam-ayam juga tidak bisa dipelihara,” keluhnya.
Kejadian ini menjadi peringatan bagi banyak peternak di wilayah Mojokerto agar memperkuat struktur kandang dan mempersiapkan langkah antisipasi terhadap cuaca buruk yang bisa datang sewaktu-waktu. Sementara itu, masyarakat berharap adanya sistem tanggap darurat yang lebih cepat dari pemerintah daerah untuk mengatasi dampak bencana secara langsung di lapangan.
