Tasikmalaya – “Halo dunia, kami dari Cisayong!”—JOTI di Dexview Camplex pada Sabtu (18/10/2025) jadi salam pembuka Pramuka muda kepada sahabat global.
Pesantren Pramuka Khalifa memimpin orkestra dukungan lokal, dari guru, orang tua, hingga sekolah yang mengirimkan regu terbaiknya.
Program JOTI ini merupakan bagian dari JUSAMI CAMP yang berlangsung tiga hari, dibuka pada Jumat (17/10/2025) dan berlanjut hingga 19 Oktober 2025.
Sebanyak 38 peserta dari jenjang SD dan SMP di Kecamatan Cisayong—dengan dukungan kuat dari SMPN 1 Cisayong—mengikuti sesi temu sapa lintas negara melalui Zoom.
Mereka memperkenalkan diri, berbagi cerita kegiatan kepramukaan, serta memainkan tebak gambar (pictionary) bersama teman pramuka dari luar negeri sebagai jembatan keakraban. Aktivitas dilakukan dari Dexview Camplex, kompleks Pesantren Pramuka Khalifa, dengan pendampingan pembina dan panitia.
“Singkat, jelas, berani menyapa,” kata koordinator kegiatan JOTI sekaligus mahasiswa Pesantren Pramuka Khalifa, Astri Nurfianti Suherman.
Astri mengendalikan alur sesi—dari pembukaan, pembagian giliran berbicara, sampai pengaturan permainan—agar percakapan lintas zona waktu tetap tertib dan inklusif.
Ia memastikan setiap regu mendapat waktu tampil yang setara, sementara moderator mendukung dengan menayangkan papan gambar digital untuk teka-teki visual. Pendekatan itu membuat peserta nyaman untuk mencoba, bertanya, dan merespons, tanpa takut salah memilih kosa kata.
Peran pesantren sebagai jangkar komunitas tampak nyata. Selain menyediakan ruang dan disiplin kegiatan, ekosistem Pesantren Pramuka Khalifa menyiapkan koneksi internet, perangkat presentasi, serta pendampingan etika bersiaran.
Dukungan lokal datang dari sekolah-sekolah yang mengirim peserta, orang tua yang memastikan kesiapan perlengkapan, dan para pengurus yang membantu logistik. Di tingkat peserta, campuran jenjang SD–SMP menciptakan suasana saling mencontoh: yang lebih senior mengarahkan adik-adiknya ketika menghadapi tantangan bahasa, sementara yang lebih muda membawa energi dan ide segar dalam permainan tebak gambar.
Secara praktis, JOTI hari ini melatih tiga kecakapan sekaligus: komunikasi lintas budaya, literasi digital, dan kerja sama tim. Dengan Zoom sebagai medium, para pramuka berlatih merangkai kalimat sederhana dalam bahasa yang dipahami bersama, menjaga giliran berbicara, dan merespons isyarat nonverbal di layar.
Permainan tebak gambar menjadi alat pemecah kebekuan dan penguat kosakata, karena gambar sering lebih cepat dipahami ketimbang kalimat yang ragu-ragu. Di sisi lain, panitia menekankan keamanan digital dasar—menonaktifkan tautan mencurigakan dan tidak membagikan data pribadi—sebagai bekal penting bagi peserta.
Rangkaian JOTI pada Sabtu (18/10/2025) ini memberi warna berbeda bagi JUSAMI CAMP, yang tidak hanya berisi kegiatan lapangan, tetapi juga membuka jendela dunia melalui jaringan.
Dengan dukungan pesantren dan komunitas Cisayong, pengalaman “menyapa dunia” bukan lagi slogan, melainkan praktik nyata yang menumbuhkan percaya diri, rasa ingin tahu, dan solidaritas antarpramuka lintas batas.
“Salam dulu, jaga giliran, tuntaskan bersama,” ujar Astri, menutup sesi yang merangkum semangat gotong royong digital hari itu.
