Jember – Pemerintah Kabupaten Jember kembali memperkuat komitmennya dalam meningkatkan akses layanan kesehatan masyarakat melalui program Jember Cinta Kesehatan. Program tersebut resmi diluncurkan Bupati Jember Muhammad Fawait di Pondok Pesantren (PP) Nuris, Antirogo, Jember, Senin (17/8/2026).
Peluncuran program yang bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu diikuti sekitar 600 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 100 peserta berasal dari keluarga besar PP Nuris.
Bupati Jember Muhammad Fawait atau yang akrab disapa Gus Fawait turun langsung meninjau pelaksanaan pemeriksaan kesehatan sekaligus melaunching program tersebut.
Dalam sambutannya, Gus Fawait menegaskan bahwa Jember Cinta Kesehatan merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah memastikan masyarakat, khususnya kelompok kurang mampu, memperoleh akses kesehatan yang layak.
Ia mengingatkan bahwa salah satu persoalan yang masih dihadapi masyarakat miskin ekstrem bukan semata-mata biaya pengobatan. Sebagian warga bahkan kesulitan mendatangi fasilitas kesehatan karena tidak memiliki biaya transportasi maupun biaya untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.
“Ketika kita amati sudah kita gratiskan tetapi masih ada beberapa golongan, khususnya masyarakat miskin ekstrem, yang masih belum bisa menikmati pengobatan kesehatan gratis. Bukan karena di puskesmas ada biaya atau rumah sakit menarik biaya, tetapi karena berangkat ke puskesmas atau rumah sakit mereka tidak punya biaya,” ujar Gus Fawait.
Menurutnya, Pemkab Jember sebelumnya telah memberikan layanan kesehatan gratis bagi warga Jember yang memiliki KTP Jember. Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 1 April 2025 dan memungkinkan masyarakat memperoleh layanan di puskesmas maupun rumah sakit.
Namun, kata dia, kebijakan tersebut perlu diperkuat dengan layanan yang lebih proaktif melalui program Home Care.
“Kalau keluarga yang mampu mempunyai dokter keluarga, Jember bupatinya santri lulusan pondok pesantren sedang bercita-cita dan merintis orang yang tidak mampu, keluarga yang tidak mampu juga punya dokter pribadi di Kabupaten Jember,” katanya.
Gus Fawait menyebut program Home Care Jember mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Kesehatan RI. Menurutnya, layanan serupa memang telah dilakukan secara parsial di sejumlah daerah, tetapi pelaksanaannya secara masif dan menyeluruh disebut menjadi salah satu keunggulan Jember.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat masyarakat yang membutuhkan intervensi kesehatan lanjutan. Karena itu, Pemkab Jember meluncurkan Jember Cinta Kesehatan dengan target mencapai 10.000 penerima manfaat sepanjang 2026.
Program tersebut tidak hanya menyasar warga Jember. Masyarakat dari luar Jember, bahkan dari wilayah Jawa Timur dan daerah lain di Indonesia, juga dapat mengikuti program apabila membutuhkan layanan yang tersedia.
“Target kita ada 10.000 di tahun 2026 ini. Bukan cuma warga Jember, warga di luar Jember, Provinsi Jawa Timur, bahkan Indonesia kalau membutuhkan bisa ikut serta di dalam program Jember Cinta Kesehatan ini,” tegasnya.
Beragam layanan medis disiapkan dalam program tersebut. Di antaranya operasi katarak, bibir sumbing, khitan, hernia, hingga pemberian alat bantu kesehatan.
Alat bantu yang disediakan meliputi alat bantu dengar, kacamata, serta protesa seperti mata palsu, kaki palsu, dan tangan palsu.
Gus Fawait berharap program tersebut dapat berjalan berkelanjutan dan menjangkau masyarakat yang selama ini masih mengalami keterbatasan dalam memperoleh layanan kesehatan.
Selain berbicara mengenai kesehatan, Gus Fawait juga menitipkan pesan kepada para santri agar tetap menjaga akhlak dan tidak melupakan jati diri sebagai santri ketika kelak terjun ke berbagai bidang profesi.
Ia menekankan bahwa santri memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi dokter, kepala puskesmas, camat, bupati, gubernur, bahkan presiden.
“Santri hari ini bisa jadi kiai, bisa jadi ustaz, bisa jadi mubalig, dan bisa jadi dokter, bisa jadi bupati, bahkan bisa jadi presiden,” ucapnya.
Gus Fawait juga mengajak para santri untuk tetap menghormati orang tua, guru, serta pemimpin, sembari tetap menjunjung budaya demokrasi dengan menyampaikan kritik dan saran secara santun.
Ia menilai kritik merupakan bagian dari demokrasi, namun mencaci dan menghina pemimpin bukanlah budaya bangsa Indonesia, terlebih bagi kalangan santri yang menjunjung tinggi akhlak.
Melalui peluncuran Jember Cinta Kesehatan, Pemkab Jember berharap semakin banyak masyarakat yang mendapatkan pelayanan kesehatan secara nyata, terutama mereka yang selama ini menghadapi keterbatasan akses dan kemampuan ekonomi.( ADV )
