Semarang – Suara anak tak lagi sekadar menjadi “gema” yang didengarkan orang dewasa, tetapi didorong ikut menentukan perubahan. Forum Anak Jawa Tengah diminta mengambil peran lebih aktif dalam menghadapi persoalan yang menyentuh kehidupan teman sebaya, mulai dari perundungan, kekerasan, putus sekolah, hingga perkawinan usia anak.
Dorongan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen ketika membuka Konferensi Forum Anak Jawa Tengah 2026 di Aula Sumbing BPSDMD, Kota Semarang, Jumat (2/10/2026). Mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Taj Yasin menekankan pentingnya keberadaan Forum Anak sebagai pelopor sekaligus pelapor atau 2P dalam perlindungan dan pemenuhan hak anak.
“Pelopor untuk perubahan menuju Indonesia emas, menuju kualitas sumber daya manusianya, dan sekaligus menjadi pelapor untuk melindungi teman-teman kita. Baik itu dari putus sekolah, dari pernikahan dini, dan yang saat ini menarik juga menjadi pelapor terkait kekerasan-kekerasan yang ada di lingkungan anak-anak,” ujar Taj Yasin saat mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi.
Peran tersebut membuat Forum Anak tidak hanya menjadi wadah untuk menyampaikan pendapat kepada pemerintah. Anak-anak juga diharapkan memiliki kepedulian terhadap kondisi teman sebaya dan berani menyampaikan ketika menemukan persoalan yang membutuhkan perhatian maupun penanganan lebih lanjut.
Taj Yasin menilai keberadaan Forum Anak selama ini telah membantu pemerintah menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi anak. Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah perkawinan pada usia anak, yang dapat berkaitan dengan keberlanjutan pendidikan dan masa depan mereka.
Data perencanaan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat 7.903 perkawinan usia anak pada 2024, turun dibandingkan 10.531 kasus pada 2023. Angka tersebut menunjukkan persoalan perkawinan anak masih menjadi salah satu isu yang membutuhkan perhatian berbagai pihak.
“Dengan adanya forum anak, sekarang banyak yang berani menyuarakan. Kami enggak nikah dulu, Pak. Kami masih pengin melanjutkan pendidikan,” katanya.
Keberanian menyampaikan pilihan untuk tetap bersekolah tersebut dinilai sebagai bentuk perubahan yang perlu dipertahankan. Anak diharapkan memperoleh ruang yang cukup untuk menyampaikan pandangan mengenai persoalan yang berhubungan langsung dengan kehidupan dan masa depan mereka.
Selain menjadi pelopor dan pelapor, Forum Anak juga didorong terlibat dalam proses perencanaan pembangunan. Pemerintah membutuhkan masukan langsung dari anak agar program dan kebijakan yang disusun dapat mempertimbangkan kebutuhan serta perspektif mereka.
“Kami butuh untuk musrenbang, kami butuh untuk masukannya dari anak-anak. Kami butuh anak-anak aktif dalam forum-forum yang ada di Jawa Tengah ini,” tuturnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Tengah, Uswatus Hasanah, mengatakan Forum Anak Jawa Tengah menjadi salah satu saluran untuk menangkap aspirasi anak dari berbagai wilayah.
Forum Anak Jawa Tengah telah hadir sejak 2009 dan kini mempunyai perwakilan di seluruh 35 kabupaten/kota. Selain menjadi tempat pengembangan kreativitas dan penyampaian pendapat, anggotanya dilibatkan dalam proses pembangunan melalui Musrenbangwil, Musrenbang kabupaten/kota, hingga forum perencanaan di tingkat desa.
“Kalau mau tahu kejernihan suara anak di Jawa Tengah adalah melalui Forum Anak Jawa Tengah,” ucap Uswatus.
Menurutnya, peran Forum Anak terus berkembang. Anggotanya tidak lagi hanya menyampaikan persoalan dan aspirasi, tetapi juga didorong mengambil tindakan melalui gerakan Jogo Konco. Melalui gerakan tersebut, anak-anak diajak meningkatkan kepedulian terhadap kondisi teman sebaya, termasuk ketika menemukan kasus perundungan.
“Jadi bukan hanya menyampaikan aspirasi tapi juga bergerak dalam mengambil aksi,” ujarnya.
Upaya memperluas keterlibatan anak juga dijalankan melalui Forum Anak Go To School. Program tersebut telah menjangkau sekitar 200 sekolah dengan keterlibatan sekitar 30.000 anak setiap tahun. Materi yang disampaikan antara lain berkaitan dengan hak anak, kesehatan, pencegahan perundungan, serta pencegahan perkawinan usia anak.
Perhatian terhadap pencegahan perundungan juga sejalan dengan sejumlah program perlindungan anak di Jawa Tengah. Pemerintah provinsi sebelumnya mendorong lingkungan pendidikan bebas perundungan dan kekerasan, termasuk melalui kegiatan di sekolah dan penguatan lingkungan pendidikan yang aman bagi anak.
Konferensi Forum Anak Jawa Tengah 2026 sendiri diikuti 100 anak yang berasal dari Forum Anak Jawa Tengah dan Forum Anak kabupaten/kota di seluruh provinsi. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk bertukar pengalaman, memperkuat jejaring, sekaligus melakukan regenerasi kepengurusan dengan memilih Forum Anak Jawa Tengah generasi ke-10.
Ketua Forum Anak Nasional (FAN) Jateng Prajnaputra Piyakusuma berharap peserta tidak sekadar mengikuti rangkaian konferensi, tetapi juga membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh kembali ke wilayah masing-masing.
“Kami berharap teman-teman bisa saling bertukar cerita, mendapatkan hal-hal baru, dan juga bisa membawa bekal bagi teman-teman pribadi dan juga bagi teman-teman yang ada di kota kabupaten teman-teman masing-masing,” ujarnya.
Konferensi tahun ini mengusung tema “Lahir Berkali-kali untuk Kolaborasi Aksi”. Tema tersebut menggambarkan regenerasi dalam tubuh Forum Anak, ketika gagasan baru terus tumbuh tanpa meninggalkan praktik baik yang telah dibangun generasi sebelumnya.
Melalui regenerasi tersebut, Forum Anak Jawa Tengah diharapkan semakin aktif mengambil bagian dalam persoalan yang dekat dengan kehidupan anak. Peran sebagai pelopor dan pelapor menjadi penting agar aspirasi tidak berhenti sebagai suara, tetapi berkembang menjadi kepedulian dan aksi bersama dalam mencegah perundungan, kekerasan, putus sekolah, serta perkawinan usia anak.
