Bondowoso – Retakan yang membelah badan jalan di salah satu jembatan tertua di Jalan Mastrip, Kelurahan Nangkaan, Kabupaten Bondowoso, menjadi alarm bagi pengguna jalan. Struktur yang selama puluhan tahun menopang arus lalu lintas itu kini menunjukkan tanda kelelahan, memaksa aparat terkait memperketat akses dan meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat melintas.
Kondisi tersebut diketahui pada Senin (15/12/2025), ketika warga sekitar melaporkan adanya kerusakan mencolok pada permukaan jembatan. Retakan terlihat memanjang di sisi barat selatan jembatan dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi bahaya, mengingat jalur ini merupakan salah satu akses penting penghubung antarwilayah di dalam kota Bondowoso.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso bergerak cepat melakukan langkah pengamanan awal. Aparat memasang barier serta garis peringatan di sekitar lokasi guna mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas, terutama bagi kendaraan berat yang kerap melintas di jalur tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto PP, menjelaskan bahwa tindakan pengamanan dilakukan sebagai langkah sementara sembari menunggu penanganan teknis lebih lanjut dari instansi yang berwenang.
“Sementara yang kami lakukan adalah pengamanan badan jalan dengan memberikan barier dan garis peringatan pada jembatan yang dilalui kendaraan,” ujar Kristianto saat ditemui, Senin (15/12/2025).
Ia menambahkan, hasil pengamatan awal menunjukkan panjang retakan diperkirakan mencapai sekitar 25 meter. Namun hingga kini, penyebab pasti kerusakan tersebut belum dapat disimpulkan. Faktor usia bangunan, beban kendaraan, hingga kondisi tanah di sekitar jembatan masih menjadi kemungkinan yang memerlukan kajian teknis lebih mendalam.
Kristianto menuturkan, kejelasan mengenai tingkat kerusakan dan langkah perbaikan akan ditentukan setelah tim dari Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Penilaian teknis tersebut dinilai penting untuk memastikan apakah jembatan masih layak digunakan dalam jangka pendek atau memerlukan penanganan darurat.
Meski ditemukan keretakan cukup serius, BPBD memastikan jembatan tersebut masih dapat dilalui untuk sementara waktu. Namun demikian, demi menjaga keselamatan pengguna jalan, diterapkan pembatasan tonase kendaraan yang melintas. Kendaraan bertonase besar diminta mencari jalur alternatif hingga ada keputusan lanjutan dari pihak berwenang.
Selain pembatasan beban, pengaturan arus lalu lintas juga diberlakukan secara ketat. Kendaraan yang melintas di atas jembatan harus berjalan bergantian satu arah guna mengurangi tekanan berlebih pada struktur jembatan yang sudah melemah.
“Untuk sementara aman dilalui, makanya dibatasi tonasenya. Kendaraan yang melintas diberlakukan satu-satu secara bergantian,” pungkas Kristianto.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk mematuhi rambu dan petunjuk di lapangan, serta tidak memaksakan melintas apabila kondisi lalu lintas padat. Keselamatan pengguna jalan menjadi prioritas utama sambil menunggu hasil pemeriksaan teknis dan keputusan penanganan jangka panjang terhadap jembatan bersejarah tersebut.
