Kediri – Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama Tahun 2026 resmi dimulai di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Forum yang menjadi salah satu penentu arah perjalanan organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU tersebut diharapkan mampu melahirkan keputusan-keputusan strategis yang semakin memperkuat peran Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat.
Kegiatan yang dibuka oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar itu dihadiri para tokoh NU, pengurus wilayah, serta unsur pemerintah. Munas diikuti utusan Syuriah Pengurus Wilayah NU dari seluruh Indonesia, sementara Konbes diikuti unsur Tanfidziyah Pengurus Wilayah NU dari 38 provinsi. Berbagai isu keagamaan, penguatan organisasi, hingga persoalan kebangsaan menjadi agenda pembahasan dalam forum tersebut.
Pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Trowulan, Kabupaten Mojokerto, KH Bimo Agus Sunarno, menilai Munas dan Konbes menjadi momentum penting untuk menyatukan pandangan para ulama dan pengasuh pesantren dalam menentukan arah organisasi menjelang muktamar.
“Semoga keputusan yang diambil di tempat ini akan memberikan semangat untuk menuju muktamar yang kondusif dan dapat terlaksana dengan baik,” ujar KH Bimo Agus Sunarno.
Menurut Kiai Bimo, keputusan yang lahir dari forum tersebut harus berorientasi pada kemaslahatan umat serta mampu menjaga tradisi dan nilai-nilai yang telah diwariskan para pendiri Nahdlatul Ulama. Ia menilai kekuatan NU selama ini bertumpu pada pesantren, ulama, serta kemandirian warga Nahdliyin.

“Kemandirian ekonomi pesantren dan jam’iyah harus menjadi perhatian bersama. Potensi yang dimiliki NU sangat besar, sehingga perlu dikelola dengan baik dan profesional agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh umat,” katanya.
Ia juga mendorong agar dilakukan inventarisasi terhadap berbagai aset yang dimiliki Nahdlatul Ulama di seluruh daerah. Menurutnya, pengelolaan aset secara tertib dan profesional dapat menjadi fondasi penting dalam memperkuat kemandirian organisasi.
“Sudah saatnya aset-aset NU dipetakan dan dikelola dengan manajemen yang baik. Dengan begitu, organisasi tidak hanya kuat secara tradisi dan keilmuan, tetapi juga memiliki kemampuan ekonomi yang dapat menopang berbagai program pelayanan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Kiai Bimo menambahkan bahwa pondok pesantren juga perlu terus meningkatkan kapasitas ekonomi agar mampu berkembang secara mandiri tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Menurutnya, penguatan ekonomi pesantren akan berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar sekaligus memperkuat posisi NU dalam kehidupan berbangsa.
Dalam Munas dan Konbes kali ini, peserta dijadwalkan membahas berbagai persoalan strategis yang menjadi perhatian warga Nahdliyin. Selain isu keagamaan dan organisasi, Konbes juga memiliki kewenangan membahas Peraturan Perkumpulan yang kedudukannya berada di bawah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama.
PBNU berharap hasil pembahasan dari forum tersebut dapat menjadi pijakan penting menuju Muktamar ke-35 NU sekaligus memperkuat kontribusi organisasi bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Setelah rangkaian sidang selesai, kegiatan Munas dan Konbes NU 2026 dijadwalkan berakhir di Kabupaten Bangkalan pada [23 Juni 2026].
