Kutim – Aplikasi stunting menjadi instrumen penting dalam upaya meningkatkan kualitas data, memperkuat program pencegahan stunting, dan memberikan dukungan yang tepat bagi masyarakat yang membutuhkan. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur, Kalimantan Timur Ronny Bonar menyoroti langkah inovatif ini dalam menangani stunting di wilayah Kutim.
Ronny Bonar menjelaskan, “Aplikasi ini akan kita sosialisasikan ke 18 kecamatan, bahkan kalau memungkinkan, ke seluruh Indonesia. Saya sudah berdiskusi dengan tim IT-nya. Saya berharap ini bukan hanya sekedar aplikasi, tetapi juga bisa bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya pada Kamis (23/11/2023).
Ronny menegaskan bahwa inisiatif ini tidak hanya berkisar pada pembuatan aplikasi semata, tetapi juga mengenai dampak positif yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Namun, Ronny Bonar juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi, terutama terkait dengan keterbatasan dana. “Secara langsung kita tidak ada, yang ada itu dari dana alokasi khusus (DAK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebesar Rp1,7 miliar,” jelasnya. “Pendamping kita awalnya tidak sampai seratus, di perubahan ada yang diusulkan, tetapi tidak langsung ke stunting karena sarana prasarana juga sangat dibutuhkan, terutama karena data kita masih lemah,” tambahnya.
DPPKB Kutai Timur, dengan memanfaatkan teknologi, berusaha memperkuat data, memperluas jangkauan program, dan memberikan solusi yang lebih efektif dalam menangani stunting. Langkah inovatif ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam penanggulangan stunting, tidak hanya di Kutai Timur tetapi juga di seluruh Indonesia. Teknologi menjadi kunci untuk mencapai hasil yang lebih baik dan berkelanjutan dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
