Mojokerto – Malam yang biasanya bergema oleh takbir dan pijar obor di Desa Kertosari, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, kini seperti tertahan di bawah langit yang tak kunjung menutup krannya. Sejak siang hingga menjelang malam pada Jumat (20/3/2026), hujan deras terus mengguyur kawasan tersebut, membuat tradisi takbir keliling yang saban tahun ramai berpotensi berlangsung jauh lebih lengang.
Cuaca buruk itu tak hanya menghadirkan gerimis biasa, melainkan hujan lebat yang memicu aliran air melintas di sejumlah ruas jalan desa. Di beberapa titik, genangan dan arus air dilaporkan mencapai lutut orang dewasa. Kondisi tersebut mengganggu mobilitas warga, terutama mereka yang semula bersiap keluar rumah untuk mengikuti takbir keliling. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi langkah warga, anak-anak, dan rombongan pembawa obor kini tampak lebih sepi karena banyak orang memilih bertahan di rumah demi menghindari risiko terseret arus atau terjatuh di jalan licin.
“Dari siang hujan terus, sampai sekarang belum reda. Airnya ngalir di jalan, tingginya sampai lutut orang dewasa,” ujar Izatul (27).
Keterangan Izatul menggambarkan situasi yang dirasakan warga sejak siang hari. Hujan yang turun tanpa jeda membuat suasana malam takbiran berubah drastis. Biasanya, tradisi takbir keliling di wilayah Kutorejo menjadi momentum kebersamaan warga untuk menyambut Idulfitri dengan berjalan kaki sambil melantunkan takbir dan membawa obor. Namun kali ini, faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama. Warga yang sebelumnya ingin ikut meramaikan kegiatan itu mulai mengurungkan niat karena khawatir dengan derasnya air di jalan desa.
Ia menambahkan, sebagian warga akhirnya memilih tidak memaksakan diri ikut takbir keliling. Selain air yang terus mengalir, hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda juga membuat perjalanan di malam hari dinilai terlalu berisiko, terlebih bagi anak-anak dan lanjut usia. Kekhawatiran itu semakin terasa karena jalan lingkungan yang biasanya aman dilalui berubah menjadi jalur basah dengan arus yang cukup kuat di beberapa titik.
Berdasarkan informasi cuaca yang disampaikan BMKG dalam materi rilis yang dirujuk warga, wilayah Mojokerto dan sekitarnya memang berada dalam potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada siang hingga malam hari. Kondisi cuaca itu juga disebut dapat disertai petir dan angin kencang. Peringatan tersebut sejalan dengan situasi yang terjadi di Kertosari, ketika hujan terus bertahan hingga waktu takbiran tiba.
Sepinya suasana malam takbiran di Kertosari memperlihatkan bagaimana cuaca ekstrem bisa memengaruhi tradisi sosial-keagamaan di tingkat desa. Di satu sisi, semangat menyambut hari raya tetap ada. Di sisi lain, keselamatan warga menjadi alasan paling kuat untuk menahan euforia. Tradisi yang biasanya hidup oleh langkah kaki, lantunan takbir, dan cahaya obor kini harus berhadapan dengan jalan yang digenangi air serta cuaca yang tidak bersahabat.
Hingga berita ini ditulis, hujan masih mengguyur wilayah Kertosari dan sekitarnya. Warga pun diimbau tetap waspada saat beraktivitas di luar rumah, terutama pada jalan-jalan yang dialiri air cukup deras. Malam takbiran tahun ini mungkin tak seramai biasanya, tetapi kehati-hatian menjadi pilihan paling bijak agar suasana hari raya tetap disambut dengan aman.
