Kediri – Di tengah bergulirnya Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026, wacana regenerasi kepemimpinan mulai mengemuka. Seperti bara yang perlahan menyala, nama Hery Haryanto Azumi kian ramai diperbincangkan sebagai salah satu figur yang berpotensi meramaikan kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU mendatang.
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2005-2007 itu secara terbuka menyatakan kesiapannya apabila mendapatkan amanah dari para kiai dan warga Nahdliyin. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan bedah buku bertajuk “Urgensi Regenerasi Kepemimpinan Baru Abad Kedua NU” karya Samsul Muarif yang digelar di salah satu rumah makan di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Ahad (21/6/2026), di sela pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kecamatan Mojo.
“Kedatangan kami di sini sebenarnya untuk memberikan hormat atas terlaksananya Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama yang sedang berlangsung di Kediri,” jelas Hery.
Menurut pria kelahiran Trenggalek, 29 April 1977 itu, momentum Munas dan menjelang Muktamar ke-35 NU menjadi waktu yang tepat untuk membahas pembaruan kepemimpinan. Ia berpandangan bahwa organisasi membutuhkan ruang yang lebih luas bagi kader-kader muda yang memiliki pengalaman organisasi, wawasan keagamaan, serta kemampuan menghadapi perkembangan zaman.
“Kita ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak muda NU yang memiliki pengalaman dan kapasitas untuk menjadi bagian dari upaya memperbaiki dan memperkuat organisasi,” katanya.
Hery menegaskan bahwa regenerasi, reformasi, dan perubahan kepemimpinan merupakan bagian yang saling berkaitan dalam upaya memperkuat NU memasuki abad keduanya. Menurutnya, pembaruan internal diperlukan agar organisasi mampu memberikan pelayanan yang lebih optimal kepada jutaan warga Nahdliyin.
“Bagaimana kita bisa bertanggung jawab kepada 140 juta lebih jamaah NU jika kita tidak merombak diri kita sendiri, memperbaharui diri kita untuk melayani mereka dengan lebih baik,” ungkapnya.
Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung sekitar satu bulan mendatang, Hery mengaku siap jika mendapat dukungan dari para ulama, senior, maupun elemen Nahdliyin untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
“Saya sebagai bagian dari anak muda NU yang diminta para senior dan para kiai untuk berani berikhtiar. Insya Allah saya siap jika dicalonkan menjadi Ketua Umum PBNU,” tegasnya.
Apabila memperoleh amanah tersebut, Hery berjanji akan memperkuat peran NU dalam menghadapi perkembangan teknologi, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta menghadirkan program-program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya sinergi seluruh badan otonom dan organisasi kader NU, seperti PMII, GP Ansor, Fatayat NU, dan berbagai elemen lainnya.
“Kita tidak sedang berkompetisi, tetapi sedang berkolaborasi untuk memperbaiki NU dan menjawab berbagai tantangan yang ada,” ujarnya.
Dalam kegiatan bedah buku itu, sejumlah tokoh dan alumni PMII turut memberikan pandangan mengenai pentingnya regenerasi kepemimpinan di lingkungan NU. Penulis buku sekaligus cendekiawan NU, Samsul Muarif, menilai Hery Haryanto Azumi merupakan salah satu representasi intelektual muda Nahdlatul Ulama yang mampu menghubungkan tradisi pesantren dengan dinamika global yang terus berkembang.
“NU membutuhkan kader yang mampu menjadi arsitek peradaban masa depan. Sosok seperti Gus Hery menjadi salah satu contoh generasi yang lahir dari tradisi pesantren namun mampu berkiprah di tingkat yang lebih luas,” ujarnya.
Diskusi tersebut menjadi bagian dari refleksi perjalanan Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua. Selain membedah buku, forum tersebut juga menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai arah masa depan organisasi dan pentingnya regenerasi kepemimpinan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
