Jombang — Semangat kebersamaan dan suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti Dusun Tanjung Anom, Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jumat pagi (4/4/2025). Keluarga besar Bani Maliki kembali menggelar acara tahunan halal bihalal sekaligus reuni keluarga, sebuah tradisi yang telah menjadi agenda rutin lima hari setelah Hari Raya Idulfitri.
Acara ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul, melainkan menjadi ruang penuh makna untuk saling memaafkan, menyambung silaturahmi, dan mempererat tali persaudaraan antarkeluarga yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Jombang, Surabaya, hingga Malang.
Dimulai dengan Khatmil Quran dan Doa Tahlil
Sejak pagi, halaman rumah tempat acara berlangsung mulai dipadati oleh para anggota keluarga yang datang dengan penuh antusias. Rangkaian kegiatan diawali dengan khatmil Quran, sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi keluarga Bani Maliki.
Lantunan ayat suci Al-Quran menggema lembut, menciptakan suasana religius dan khusyuk. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa tahlil untuk mendoakan para leluhur yang telah wafat. Rangkaian doa ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan hari ini tidak lepas dari jasa dan perjuangan para pendahulu.
Hadir dari Berbagai Penjuru
Tidak hanya dihadiri oleh keluarga yang tinggal di sekitar Jombang, acara ini juga menjadi titik temu bagi sanak saudara dari luar kota. Tampak wajah-wajah penuh rindu dari keluarga yang datang dari Surabaya, Malang, dan sejumlah daerah lain. Perjalanan jauh mereka tempuh demi hadir dalam momentum yang sarat nilai kekeluargaan ini.
Salah satu tokoh yang hadir adalah Ustaz Muhammad Afifuddin, anggota keluarga dari Malang. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga tradisi halal bihalal sebagai media penyambung silaturahmi. “Alangkah baiknya kita manfaatkan momen ini untuk saling memaafkan, menghapus kesalahpahaman, dan mempererat hubungan kekeluargaan yang kadang renggang karena kesibukan masing-masing,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan ucapan khas Lebaran yang penuh kehangatan, “Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.”

Doa dan Tawa dalam Satu Suasana
Salah satu momen yang tak kalah sakral adalah ketika Abdul Halim, anggota keluarga dari Surabaya, memimpin doa bersama. Dengan penuh khidmat, ia memohon agar keluarga besar Bani Maliki senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, dan keberkahan dalam kehidupan.
Suasana kemudian berubah lebih cair dan akrab. Tawa dan canda mulai terdengar dari berbagai sudut. Anak-anak berlarian, orang dewasa saling bertukar kabar, dan generasi muda tampak asyik berbincang mengenal silsilah keluarga. Momen ini menjadi ruang untuk menyambung kembali hubungan yang mungkin mulai renggang karena jarak dan waktu.
Mushafahah dan Foto Bersama
Sebagai penutup, kegiatan mushafahah atau bersalam-salaman menjadi simbol konkret dari niat saling memaafkan. Satu per satu, para anggota keluarga berjabat tangan dengan penuh kehangatan. Tidak sedikit yang terharu, bahkan meneteskan air mata saat berpelukan dan menyampaikan maaf secara langsung.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama. Meski tampak sederhana, foto itu menyimpan nilai tinggi sebagai dokumentasi kebersamaan lintas generasi. Wajah-wajah bahagia dan hangat terlihat dalam jepretan kamera, menjadi kenangan yang kelak akan terus dikenang.
Warisan yang Terus Dijaga
Tradisi halal bihalal keluarga besar Bani Maliki ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurut panitia acara, kegiatan ini selalu digelar lima hari setelah Lebaran, sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang lebih longgar dan tenang untuk bersilaturahmi.
Lebih dari sekadar seremoni, halal bihalal ini adalah warisan keluarga yang ingin terus dijaga. Ia menjadi bukti bahwa nilai-nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan keislaman masih hidup di tengah dinamika zaman yang kian sibuk dan individualistik.
Dengan semangat yang terus dijaga, keluarga besar Bani Maliki membuktikan bahwa jarak bukanlah penghalang untuk tetap saling terhubung, dan bahwa keluarga adalah tempat untuk kembali, kapan pun dan di mana pun.
