Malang – Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, dengan memanfaatkan galon sekali pakai sebagai media budidaya ikan lele.
Program yang dilaksanakan Kelompok 11 Pengabdian Kepada Masyarakat Bahari Bakti Akademisi untuk Negeri (PKM-Bahari) FPIK UB tersebut tidak hanya mengedepankan pemanfaatan kembali limbah plastik, tetapi juga memadukan budidaya ikan dengan pengolahan hasil perikanan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
Kegiatan sosialisasi dan edukasi diikuti ibu-ibu PKK, perangkat desa, serta masyarakat sekitar. Materi disampaikan mahasiswa FPIK UB bersama Dosen Pembimbing Lapang (DPL), Bayu Kusuma, S.Pi., M.Sc.
Dalam kegiatan tersebut, warga mendapatkan pengetahuan mengenai teknik dasar budidaya ikan lele menggunakan galon bekas, mulai dari persiapan wadah hingga pemeliharaan ikan. Selain itu, masyarakat juga memperoleh edukasi mengenai pengolahan ikan lele agar hasil budidaya tidak hanya dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual.
Program bertema “Galon Bekas Jadi Kolam Lele, Hasilnya Diolah Jadi Produk Bernilai” menerapkan teknologi tepat guna yang sederhana, praktis, dan mudah diterapkan masyarakat. Pemanfaatan kembali galon sekali pakai sebagai wadah budidaya menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan lahan maupun modal yang kerap dihadapi masyarakat.

Pada tahap awal, mahasiswa memberikan edukasi mengenai pemanfaatan galon sekali pakai yang sudah tidak digunakan. Galon terlebih dahulu dibersihkan dan kemudian dimodifikasi dengan membuat lubang pada bagian tertentu sebagai saluran air serta menyesuaikannya agar dapat digunakan sebagai wadah pemeliharaan ikan lele.
Melalui inovasi tersebut, galon bekas yang sebelumnya menjadi limbah dapat memiliki fungsi baru sebagai media budidaya ikan yang praktis, hemat biaya, dan lebih ramah lingkungan.
Budidaya lele menggunakan galon bekas juga menjadi alternatif bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan. Dengan memanfaatkan barang yang tersedia di sekitar rumah, masyarakat Desa Putukrejo didorong agar mampu menghasilkan sumber pangan secara mandiri.
Selain memperkuat ketersediaan pangan keluarga, hasil budidaya ikan lele juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk olahan sehingga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Program tersebut turut mendukung sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, SDGs 1: No Poverty (Tanpa Kemiskinan) melalui pemberdayaan masyarakat untuk membuka peluang tambahan pendapatan dari kegiatan budidaya maupun pengolahan ikan lele.
Kedua, SDGs 3: Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan konsumsi pangan bergizi yang bersumber dari ikan lele sebagai salah satu sumber protein.
Ketiga, SDGs 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui kegiatan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat mengenai teknik budidaya, pemanfaatan bahan bekas, serta pengolahan hasil perikanan.
Keempat, SDGs 8: Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong munculnya peluang usaha baru melalui kegiatan budidaya maupun pengembangan produk olahan ikan.
Kelima, SDGs 17: Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi mahasiswa FPIK Universitas Brawijaya, pemerintah desa, dan masyarakat dalam menjalankan program secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa PKM-Bahari FPIK UB Kelompok 11 berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Putukrejo.
Pemanfaatan galon bekas sebagai media budidaya lele diharapkan tidak hanya menjadi solusi sederhana dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga dapat menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
Penulis: Kelompok 11 PKM-B FPIK UB
Dosen Pembimbing Lapang: Bayu Kusuma, S.Pi., M.Sc.
