Sangatta – Menjelang perayaan Iduladha 1445 H, kebutuhan hewan kurban di Kutai Timur (Kutim) mayoritas dipenuhi dengan impor dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi, mencapai hampir 70 persen dari total kebutuhan.
Hal ini menyoroti bahwa ketahanan swasembada daging sapi di Kutim belum sepenuhnya dimaksimalkan oleh pihak pemerintah setempat.
Faizal Rachman, Anggota DPRD Kutim, mengungkapkan bahwa permintaan daging menjelang Iduladha memang tinggi, sehingga impor dari luar menjadi solusi. Ia menjelaskan bahwa hewan yang diberi bantuan pemerintah belum boleh dijual sebelum mencapai usia matang, dan menjualnya sebelum waktunya dapat berakibat hukuman pidana.
“Keputusan untuk mendatangkan hewan dari luar bukan karena tidak ada swasembada, tapi karena momen Iduladha ini dimanfaatkan oleh pelaku bisnis untuk mendapatkan keuntungan,” katanya saat di wawancarai di Gedung DPRD Kutim, Sabtu (15/6/2024).
Menurut Faizal, hal ini menunjukkan perlunya Kutim untuk lebih siap menghadapi kebutuhan daging sendiri di masa depan. Ia juga mendorong kelompok tani untuk lebih aktif dalam pengadaan bibit produktif, dengan menekankan bahwa bibit yang diberikan bantuan harus dirawat dan tidak boleh dijual sebelum layak.
“Saya menegaskan agar bibit tersebut dipelihara dengan baik. Jika ada yang menjual sebelum waktunya, laporkan agar tindakan hukum dapat diambil sebagai efek jera,” ujarnya tegas.
Faizal berharap agar petani di Kutai Timur tidak hanya memiliki lahan pertanian, tetapi juga memiliki minimal satu ekor sapi. Ia menyampaikan harapannya bahwa masyarakat dapat memanfaatkan sapi tidak hanya untuk keperluan daging, tetapi juga untuk pupuk organik dari kotorannya.
“Saya berharap petani Kaubun memiliki setidaknya satu ekor sapi, karena ini bukan hanya soal kebutuhan Iduladha, tetapi juga investasi untuk masa depan pertanian di daerah ini,” pungkasnya.
Dengan demikian, langkah-langkah ini diharapkan dapat mengoptimalkan potensi lokal Kutai Timur dalam memenuhi kebutuhan daging sapi secara mandiri, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat secara keseluruhan.
