Surabaya – Seperti berpacu dengan awan gelap yang kerap menumpahkan hujan deras, Pemerintah Kota terus mempersiapkan infrastruktur agar genangan air tak lagi menjadi cerita berulang. Melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Pemkot Surabaya meningkatkan kapasitas drainase di sejumlah titik rawan sebagai langkah strategis untuk menekan risiko banjir dan genangan saat hujan berintensitas tinggi mengguyur kota.
Upaya tersebut dilakukan dengan menargetkan intervensi pada 30 titik drainase sepanjang tahun 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang DSDABM untuk mengendalikan genangan air di ruas-ruas jalan utama maupun kawasan permukiman. Intervensi yang dilakukan meliputi peningkatan kapasitas saluran drainase hingga pembesaran long storage yang dinilai krusial dalam menampung debit air hujan dalam jumlah besar.
Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas saluran menjadi kebutuhan mutlak mengingat perubahan pola curah hujan yang semakin ekstrem. Saluran drainase yang ada harus mampu menampung dan mengalirkan air secara optimal agar tidak meluap ke jalan maupun permukiman warga.
“Intervensi mencakup peningkatan kapasitas saluran drainase, termasuk pembesaran long storage yang menjadi kebutuhan mutlak agar saluran mampu menampung debit air yang besar,” ujar Adi Gunita.
Ia mengungkapkan bahwa pemetaan titik genangan telah dilakukan secara berkelanjutan sejak beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data DSDABM, sejak 2021 terdapat sekitar 220 titik genangan di Kota Surabaya. Berkat berbagai program penanganan, jumlah tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar 138 titik. Meski demikian, masih terdapat sejumlah lokasi yang menjadi pekerjaan rumah dan masuk dalam rencana penanganan lima tahun ke depan.
Beberapa kawasan yang hingga kini masih menjadi perhatian antara lain Jalan Raya Tenggilis Mejoyo, Jalan Simo Kalangan, dan Jalan Margomulyo. Adi menuturkan bahwa penanganan genangan tidak bisa dilakukan secara seragam karena setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda. Dalam evaluasi teknis, terdapat tiga parameter utama yang menjadi acuan, yakni tinggi genangan, lama genangan, serta luas area yang terdampak.
Khusus di kawasan Margomulyo, genangan air cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk surut. Hal ini disebabkan oleh karakteristik wilayah yang berada di area cekungan serta posisinya yang berada di bawah jalan tol dan kawasan keluar Tol Margomulyo.
“Wilayah ini terletak di bawah jalan tol dan area keluar Tol Margomulyo, sehingga memerlukan pendekatan khusus dalam penanganannya,” jelas Adi.
Selain peningkatan kapasitas drainase, juga terus memperkuat infrastruktur pendukung untuk mengantisipasi banjir. Salah satu langkah konkret adalah penambahan lima rumah pompa baru yang difungsikan untuk membantu mengendalikan genangan, khususnya saat puncak musim hujan. Keberadaan rumah pompa ini diharapkan mampu mempercepat pembuangan air ke saluran utama dan sungai.
Adi menegaskan bahwa keberhasilan penanganan banjir tidak hanya bergantung pada infrastruktur. Partisipasi masyarakat juga memegang peranan penting dalam menjaga kelancaran aliran air. Warga diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan ke saluran drainase serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat terkait pengelolaan air dan penggunaan lahan yang sesuai dinilai sangat penting agar upaya pemerintah dapat berjalan maksimal. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, risiko banjir di Surabaya diharapkan dapat terus ditekan, sehingga aktivitas warga tetap berjalan lancar meski hujan deras melanda kota.
