Simpang Empat – Komitmen menjaga kualitas gizi anak sekolah terus ditegaskan Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman Barat melalui pengawasan ketat terhadap operasional dapur Makan Bergizi (MBG) yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kehadiran dapur-dapur tersebut dinilai menjadi motor penting dalam upaya perbaikan gizi anak sekolah sekaligus strategi menekan angka stunting di Pasaman Barat.
Kepala Dinas Kesehatan Pasaman Barat, Ghina Alecia, menyampaikan apresiasi atas mulai beroperasinya sejumlah SPPG, termasuk SPPG Mahakarya yang berada di Kecamatan Luhak Nan Duo. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda, khususnya anak-anak usia sekolah yang menjadi sasaran utama program makan bergizi.
“Kami sangat mengapresiasi beroperasionalnya SPPG Mahakarya dan unit-unit lain yang telah berjalan. Ini adalah kontribusi nyata untuk peningkatan gizi anak sekolah, khususnya di Luhak Nan Duo dan secara umum di seluruh wilayah Pasaman Barat,” ujar Ghina kepada awak media di Simpang Empat, Senin (26/1/2026).
Meski demikian, Ghina menegaskan bahwa keberhasilan dapur bergizi tidak hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang disalurkan. Aspek keamanan pangan dan higienitas, menurutnya, menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Dapur MBG dituntut tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga memastikan seluruh proses produksi berjalan sesuai standar kesehatan.
Sebagai bentuk pengawasan, Dinas Kesehatan mewajibkan setiap SPPG untuk memiliki Surat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikat tersebut menjadi syarat mutlak agar dapur produksi dapat beroperasi secara legal dan memenuhi prosedur kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.
“SLHS adalah jaminan bahwa proses produksi makanan di SPPG memenuhi standar kesehatan. Tanpa itu, dapur tidak diperkenankan beroperasi. Ini penting demi melindungi anak-anak sebagai penerima manfaat,” tegas Ghina.
Ia juga menekankan bahwa kualitas gizi makanan tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, tetapi juga oleh manajemen pengolahan. Mulai dari proses persiapan, pengolahan, hingga pendistribusian, seluruh tahapan harus mengikuti Protokol Tetap (Protap) yang telah ditetapkan. Konsistensi dalam menerapkan protap dinilai menjadi kunci keberhasilan program MBG.
Dalam pengawasan operasional SPPG, Dinas Kesehatan Pasaman Barat menyoroti empat poin krusial. Pertama, memastikan komposisi makanan sesuai dengan kebutuhan gizi dan tumbuh kembang anak. Kedua, menjaga kebersihan dapur serta penerapan cara memasak yang benar dan aman. Ketiga, menjamin ketepatan jumlah asupan yang diberikan kepada setiap anak. Keempat, memastikan makanan didistribusikan dalam kondisi segar, aman, dan tidak terkontaminasi.
“Kami berharap seluruh proses, mulai dari perhitungan gizi hingga pendistribusian, benar-benar mengikuti protap yang ada. Ini demi memastikan tujuan utama kita, yaitu menekan angka stunting dan mencetak generasi yang sehat serta cerdas di Pasaman Barat,” jelasnya.
Ghina menambahkan, pengawasan dari Dinas Kesehatan akan dilakukan secara berkelanjutan. Evaluasi rutin akan menjadi bagian dari upaya memastikan dapur bergizi berjalan konsisten dan tidak menurunkan standar pelayanan. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap program MBG dapat terus terjaga.
Melalui penegasan ini, Dinas Kesehatan Pasaman Barat menegaskan bahwa dapur bergizi bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah daerah berharap, dengan standar ketat dan pengawasan berkelanjutan, program MBG mampu menjadi fondasi kuat dalam membangun generasi Pasaman Barat yang sehat, tangguh, dan berkualitas.
