Kukar – Udara dingin dan suara hujan yang mendera sejak dini hari di Senin (12/5/2025) seharusnya menjadi pengantar tidur yang damai. Tapi bagi warga Desa Loa Duri Ilir, pagi itu justru menjadi alarm bencana. Sekitar pukul 07.00 WITA, lereng Gunung Loa Duri yang berada tepat di sisi Jalan Gerbang Dayaku, ambruk. Material tanah dan bebatuan menimbun badan jalan, memutus jalur utama penghubung Samarinda–Tenggarong.
“Kalau musim hujan, longsor memang biasa. Tapi kali ini benar-benar besar. Jalan utama nyaris tak bisa dilewati,” tutur seorang warga dengan napas tertahan. Raut wajahnya mencerminkan ketakutan yang telah lama mengendap, kini mencuat lagi.
Warga setempat menyebut daerah itu sebagai “jalur maut”. Bukan hanya karena rawan longsor, tetapi juga karena kerap memakan korban akibat kendaraan besar yang gagal menanjak atau rem blong. “Pernah satu truk rem blong, mundur, dan hancurkan rumah warga. Ada yang meninggal waktu itu,” cerita warga lainnya dengan lirih.
Kini, dua tiang listrik ikut miring, seperti menunggu giliran untuk roboh. Rasa cemas pun semakin merayap. Anak-anak dilarang mendekat ke area jalan, dan sebagian warga memilih berjaga. Ancaman longsor susulan tak bisa diabaikan. Cuaca ekstrem diprediksi masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Koordinator lapangan BPBD Kutai Kartanegara, Nofal Faroji, mengatakan pihaknya bersama relawan dan kepolisian langsung bergerak cepat. “Kami lakukan evakuasi, pasang pembatas, dan tutup arus sementara. Ini untuk keselamatan semua,” ujarnya.
Bagi warga, longsor kali ini bukan hanya peristiwa alam, tapi juga cermin dari kelalaian. Bertahun-tahun mereka menyuarakan kebutuhan akan penguatan tebing, perbaikan struktur jalan, dan manajemen risiko yang nyata. Namun, yang datang hanya tambalan dan janji.
“Kami tidak butuh janji lagi. Kami butuh solusi. Jalan ini urat nadi kami. Kalau terus begini, bukan cuma mobil yang terguling, tapi juga harapan,” ucap warga sambil menatap bukit yang baru saja longsor itu.
Saat ini, material longsor masih menumpuk. Pembersihan tengah dilakukan. Tapi, yang lebih berat dari itu adalah membersihkan rasa takut yang kini melekat dalam ingatan kolektif warga Loa Duri.
Mereka hanya ingin satu hal: agar tragedi tak lagi menjadi tradisi tahunan. Dan agar sebuah jalan tidak lagi menjadi pengingat akan rapuhnya perlindungan dari negara.
