Jambi – Denting alat musik tradisional dan gemuruh tepuk tangan hadirin menyambut langkah penuh khidmat Gubernur Jambi, Dr. Al Haris, yang pagi itu mengenakan busana adat Melayu lengkap. Di Auditorium Rumah Dinas Gubernur Jambi, Minggu (11/5/2025), suasana terasa seperti kembali ke akar: budaya, identitas, dan keislaman. Hari itu, ia dikukuhkan sebagai Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Provinsi Jambi.
Dari barisan tamu kehormatan, tampak Wakil Bupati Kerinci, Murison, hadir dengan sikap tegak dan senyum penuh makna. Ia datang bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari semangat yang ingin terus menyalakan nyala warisan Melayu dan Islam di bumi Jambi.
“Selamat kepada Bapak Gubernur Al Haris atas pelantikan ini. Kami berharap DMDI di bawah kepemimpinan beliau dapat menjadi motor penggerak dalam pelestarian budaya serta peningkatan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat,” ujar Murison dalam sambutannya, yang disambut anggukan dari para tokoh yang hadir.
Bagi Murison, DMDI bukan sekadar organisasi—ia adalah forum strategis yang membentangkan jembatan persaudaraan, bukan hanya di dalam negeri tetapi hingga ke kancah internasional. Kerinci, dengan kekayaan tradisinya, merasa memiliki peran penting dalam jaringan Melayu Islam global yang ingin dibangun oleh DMDI.
Gema budaya terasa kental sepanjang acara. Tarian tradisional, pembacaan ikrar, hingga penyerahan cinderamata membingkai prosesi dengan nuansa yang menyentuh. Tak sedikit tamu yang tampak terharu menyaksikan momen persatuan dalam keberagaman adat dan nilai-nilai keislaman.
Bagi masyarakat Melayu, DMDI adalah rumah besar. Sebuah panggung diplomasi budaya yang menyatukan nilai tradisional dan religius dalam satu nafas. Di tengah derasnya arus globalisasi, pengukuhan ini menjadi pengingat: bahwa budaya tak pernah lekang, dan nilai-nilai Islam tetap menjadi fondasi kehidupan sosial yang kuat.
Dengan semangat kolaborasi antardaerah, kehadiran Wabup Murison menjadi penegas bahwa Kabupaten Kerinci tak hanya ikut serta, tapi siap menjadi mitra aktif dalam gerakan pelestarian dan penguatan identitas Melayu-Islam.
Acara berakhir, tetapi semangatnya tak padam. Di mata para hadirin, hari itu bukan sekadar seremoni—melainkan awal dari komitmen baru untuk menjaga jati diri dan merajut kembali simpul-simpul persaudaraan yang telah lama tumbuh di tanah Melayu.
