Tapanuli Selatan – Warga Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Sumatera Utara, kini hanya bisa melihat tanah kosong dan puing‑puing kayu di lokasi tempat desa mereka dulu berdiri. Banjir bandang dan tanah longsor yang datang pada Selasa (25/11/2025) sekitar pukul 11 siang menghancurkan rumah–rumah dan lahan pertanian, menyisakan kehancuran menyeluruh serta duka mendalam bagi masyarakat agraris setempat.
Menurut keterangan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hampir seluruh rumah di Garoga tertimbun tanah dan gelondongan kayu, sehingga desa dikatakan “hilang” dari peta pemukiman.
“Kami lihat hampir semua rumahnya tertimbun dengan tanah dan kayu yang cukup banyak,” ungkap Menteri KLH, Hanif Faisol Nurofiq, saat meninjau lokasi pada Sabtu (6/12/2025).
Ia menjelaskan, penyebab utama kehancuran adalah curah hujan ekstrem yang mencapai lebih dari 450 mm dalam dua hari, serta kondisi topografi hulu DAS Garoga yang curam dan mudah longsor. Longsoran besar membawa serta kayu dan lumpur dalam volume besar ke hilir dan menghantam pemukiman.
Pohon-pohon besar ikut terseret arus. Kayu bergelondongan sepanjang 10 meter dan berdiameter hingga 1 meter dilaporkan menghancurkan rumah warga. Kayu-kayu ini kini terlihat menumpuk di sisi kanan dan depan bekas pemukiman warga, memperparah kerusakan yang ditimbulkan oleh arus deras.
Desa Garoga memang dikenal rawan banjir, namun warga menyebut belum pernah terjadi banjir bandang sebesar ini yang membawa serta kayu-kayu besar dan menghancurkan seluruh rumah. Aliran sungai yang kuat dari arah timur ke barat kini telah menjadi jalur kehancuran.
Bencana ini juga memutus akses jalan dan jaringan listrik. Petugas PLN tengah melakukan perbaikan tiang-tiang yang roboh. Listrik belum menyala hingga kini, dan sinyal komunikasi baru tersedia berkat kedatangan mobil Starlink dari relawan kemanusiaan.
Dugaan sementara menyebut pembukaan lahan untuk perkebunan sawit di hulu DAS turut memperparah situasi. Pemerintah menyatakan akan melakukan investigasi menyeluruh terkait izin lingkungan dan tata guna lahan di kawasan tersebut.
Tragedi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mitigasi bencana. Desa Garoga, yang dulunya hidup dari sawah dan ladang, kini tinggal kenangan — hamparan lumpur coklat menggantikan pemukiman, menyisakan rasa kehilangan mendalam.
