Tasikmalaya – Usia lanjut tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar dan berkarya. Semangat itu mewarnai peluncuran Sekolah Lansia “Bahagia Al-Mu’minin” di Kampung Citalahab, Desa Cigunung, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (25/4/2026). Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus pemberdayaan bagi warga lanjut usia agar tetap sehat, aktif, mandiri, dan memiliki peran di tengah masyarakat.
Sekolah lansia tersebut merupakan inisiatif Yayasan Al-Mu’minin Citalahab yang lahir dari kepedulian terhadap meningkatnya kebutuhan layanan bagi kelompok usia lanjut. Tidak hanya menyediakan materi edukasi, program ini juga menjadi wadah bagi para peserta untuk membangun jejaring sosial, berbagi pengalaman hidup, dan menjaga kesehatan fisik maupun mental melalui berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan lansia.
Peluncuran program mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Indonesia Ramah Lansia Jawa Barat yang sekaligus melantik pengurus sekolah lansia, unsur pemerintah daerah, Dinas Sosial, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kabupaten Tasikmalaya, Tim Penggerak PKK, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga tokoh masyarakat setempat.
Dukungan juga datang dari kalangan akademisi. Universitas Pendidikan Indonesia berencana menjadikan program tersebut sebagai laboratorium pembelajaran lansia, sehingga dapat menjadi ruang penelitian sekaligus pengembangan model pemberdayaan masyarakat berbasis pendidikan sepanjang hayat.
Sebagai mitra pelaksana, Puskesmas Parungponteng bersama KSPPG Cintabodas 2 turut dilibatkan dalam pendampingan program. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan layanan yang tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan, tetapi juga kesehatan dan kesejahteraan peserta.
Sekolah Lansia “Bahagia Al-Mu’minin” dipimpin oleh Elan Ruslan dengan jumlah peserta awal sekitar 70 orang yang seluruhnya berusia 60 tahun ke atas. Antusiasme peserta terlihat sejak kegiatan perdana, mencerminkan besarnya kebutuhan akan ruang belajar dan aktivitas sosial bagi kelompok lanjut usia.
Inisiator program, Ariz Rizaludin, mengatakan sekolah lansia dibentuk sebagai respons terhadap kondisi sebagian lansia yang masih menghadapi keterbatasan ruang untuk beraktivitas dan berinteraksi di lingkungan sekitarnya.
“Sekolah lansia ini kami hadirkan agar para lansia tetap aktif, sehat, dan produktif. Bukan hanya belajar, tapi juga menjadi ruang bersosialisasi dan meningkatkan kualitas hidup,” ujar Ariz Rizaludin saat peluncuran Sekolah Lansia Bahagia Al-Mu’minin di Kampung Citalahab, Desa Cigunung, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (25/4/26).
Melalui berbagai materi pembelajaran, para peserta akan mendapatkan edukasi mengenai kesehatan, pola hidup sehat, psikologi lansia, penguatan spiritual, hingga kegiatan yang mendorong keterampilan dan partisipasi sosial. Program tersebut diharapkan mampu membantu lansia menjalani masa tua dengan lebih mandiri sekaligus tetap terhubung dengan lingkungan sekitar.
Selain memberikan manfaat bagi peserta, sekolah lansia juga diharapkan memperkuat peran keluarga dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang ramah terhadap warga lanjut usia. Kehadiran ruang belajar seperti ini menjadi pengingat bahwa proses pendidikan tidak berhenti ketika seseorang memasuki usia pensiun, melainkan berlangsung sepanjang hayat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing individu.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu penuaan penduduk menjadi perhatian di berbagai daerah di Indonesia. Meningkatnya angka harapan hidup membawa konsekuensi perlunya program yang mampu menjaga kualitas hidup lansia, baik dari sisi kesehatan, kemandirian, maupun keterlibatan sosial. Sekolah lansia menjadi salah satu pendekatan yang dinilai efektif untuk menjawab tantangan tersebut melalui pendidikan berbasis komunitas.
Ke depan, Sekolah Lansia “Bahagia Al-Mu’minin” diharapkan menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Tasikmalaya maupun wilayah lainnya. Dengan dukungan pemerintah, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, dan masyarakat, program ini berpotensi melahirkan lingkungan yang lebih inklusif bagi warga lanjut usia.
Peluncuran sekolah lansia di Desa Cigunung menunjukkan bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia. Ketika lansia memperoleh kesempatan untuk terus belajar, berinteraksi, dan berkegiatan, mereka tidak hanya mempertahankan kualitas hidup, tetapi juga tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
