Samarinda – Di tengah derasnya arus informasi digital, anggota DPRD Kalimantan Timur, Darlis Pattalongi, menyerukan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat budaya literasi masyarakat. Menurutnya, literasi adalah garda terdepan dalam melawan hoaks dan membentuk masyarakat yang tangguh secara intelektual.
“Sekarang semua orang bisa membuka apa saja, literasilah yang menjadi penyaring. Tanpa itu, publik mudah terombang-ambing oleh informasi yang tak jelas,” kata Darlis saat diwawancarai di Kantor Gubernur Kaltim, Sabtu (14/6/2025).
Sebagai politisi dari Fraksi PAN-Nasdem dan Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis menilai bahwa peningkatan literasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Ia menekankan perlunya keterlibatan media, perguruan tinggi, dan komunitas masyarakat dalam membangun budaya literasi yang kuat dan berkelanjutan.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Media, perguruan tinggi, dan semua pihak harus turun tangan. Kita harus bergandengan agar literasi di Kalimantan Timur bisa terus meningkat,” ujarnya.
Darlis juga membedakan antara minat baca dan kemampuan membaca. Menurutnya, meskipun masyarakat memiliki antusiasme terhadap bacaan, mereka belum sepenuhnya mampu memahami dan menyaring informasi yang mereka konsumsi.
“Minat baca kita tinggi. Tapi kemampuan membacanya rendah. Orang suka baca, tapi tidak tahu bacaan itu membawa nilai atau tidak. Di situlah pentingnya penguatan kemampuan literasi,” tegasnya.
Sebagai anggota Badan Anggaran DPRD, Darlis juga menyoroti pentingnya dukungan pendanaan untuk program-program literasi. Ia mendorong inisiatif seperti perpustakaan keliling, pojok baca di kelurahan, hingga pelatihan menulis dan membaca kritis sebagai solusi nyata.
“Jangan hanya wacana. Perlu intervensi nyata. Perpustakaan keliling, pojok baca di kelurahan, dan pelatihan menulis atau membaca kritis bisa jadi program konkret,” jelasnya.
Darlis menekankan bahwa peningkatan literasi akan memberikan dampak signifikan, terutama bagi masyarakat di daerah pesisir dan pedalaman Kalimantan Timur yang selama ini kurang mendapatkan akses terhadap informasi berkualitas.
“Kalau kita ingin generasi tangguh menghadapi zaman digital, kita mulai dari literasi. Itu modal untuk membentuk karakter, daya nalar, dan integritas masyarakat,” pungkasnya. (ADV)
