Jakarta — Sebuah video yang memperlihatkan terapis menjepit seorang anak dengan kedua kakinya viral di media sosial. Anak yang disebut-sebut menderita autism spectrum disorder (ASD) itu tampak kesakitan, sementara si terapis malah asyik bermain ponsel bahkan tertidur.
Korban tersebut tengah menjalani terapi wicara untuk anak dengan autisme. Kejadian ini terjadi di Depok, Jawa Barat itu kini tengah aparat kepolisian usut.
Apakah menjepit dengan kedua kaki merupakan salah satu cara terapi untuk anak autis?
Lantas, bagaimana seharusnya terapi wicara untuk anak dengan autisme lakukan? Psikolog anak Mira D. Amir menyebut terapi wicara yang diberikan terhadap anak dengan autisme seharusnya tak disertai kekerasan. Seorang terapis seharusnya paham bagaimana menghadapi anak dengan autisme yang terkadang kesulitan untuk fokus pada satu atau lain hal.
“Sangat menyayangkan. Seharusnya tidak memakai kekerasan, karena terapi, kan, untuk meningkatkan kemampuan adaptasi, bukan untuk menyiksa,” kata Mira saat CNNIndonesia.com menghubunginya, Kamis (16/2/2023).
Anak dengan autisme, kata Mira, memang sering kesulitan untuk mematuhi seseorang, termasuk patuh kepada terapis. Tapi hal ini bukan serta merta memperbolehkan terapi untuk melakukan tindak kekerasan terhadap mereka.
Memang, salah satu kegiatan yang biasa orang lakukan saat terapi adalah ‘menjepit’ atau ‘menahan’ anak di antara meja. Mira mengatakan bahwa posisi ini memang untuk membuat anak lebih fokus saat melakukan terapi.
Biasanya terapis memiliki alat mirip meja yang memiliki ruang kosong di tengahnya. Anak akan ia biarkan berada di ruang kosong tersebut, tapi tentu saja mereka lakukan tanpa kekerasan dan unsur pemaksaan.
“Diminta pelan-pelan untuk masuk. Kuncinya itu, ya, agar anak fokus saja, bukan untuk menyakiti. Dan ini juga tidak boleh ada unsur paksaan,” kata dia.
Terapi wicara untuk anak autis adalah kesabaran. Para terapis seharusnya sudah memiliki lisensi atau sertifikasi terapi wicara untuk anak dengan autisme. Hal ini ia butuhkan sebagai bekal menghadapi anak-anak dengan autisme yang sulit mematuhi atau menerima arahan orang lain.
Terapis harus memahami keinginan anak. Mereka harus ia buat nyaman dan percaya bahwa apa yang mereka lakukan berguna dan untuk kepentingannya.
“Idealnya itu, si anak harus dibuat nyaman dengan situasi. Dan itu tidak bisa cepat, semua harus perlahan dan memang cukup lama,” kata Mira.
Terapi wicara untuk anak autis juga harus dilakukan setiap hari. Dengan waktu normal dua hingga tiga jam setiap harinya.
Saat memberikan terapi, terapis wicara juga tidak boleh memaksakan kehendak. Jika anak sudah enggan, bosan, atau bahkan tantrum, kegiatan harus mereka hentikan. Kenyamanan anak dengan autisme adalah hal utama.
“Karena kalau sudah nyaman, mereka percaya. Kalau sudah percaya, mereka akan mau mengikuti instruksi terapisnya,” kata dia.
