Jombang – Wajah yang mendadak mencong seperti kehilangan kendali kerap memantik kepanikan. Tidak sedikit orang langsung mengaitkan kondisi tersebut dengan stroke atau bahkan paparan kipas angin. Padahal, kelumpuhan pada satu sisi wajah juga dapat mengarah pada Bell’s Palsy, gangguan saraf wajah yang membutuhkan pemeriksaan medis agar penyebab dan penanganannya dapat ditentukan dengan tepat.
Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RSUD Jombang, dr. Agustina Mujidah, Sp.KFR, menjelaskan Bell’s Palsy merupakan kelumpuhan saraf fasialis perifer yang muncul secara akut dan mendadak. Gangguan tersebut umumnya terjadi hanya pada satu sisi wajah atau unilateral. Kondisi ini berkaitan dengan saraf kranial ketujuh atau saraf fasialis yang memiliki peran penting dalam mengendalikan berbagai gerakan otot wajah.
“Saraf ini memiliki fungsi vital untuk mengontrol seluruh pergerakan otot wajah, mulai dari tersenyum, mencucu, mengangkat alis, hingga menutup kelopak mata,” urai Agustina dalam wawancara Podcast di Ruang Humas RSUD Jombang Menyapa, Selasa (8/9/2026) pagi.
Bell’s Palsy dapat terjadi ketika saraf fasialis mengalami peradangan, pembengkakan atau tekanan. Agustina menerangkan, penyebab pastinya dalam banyak kasus belum diketahui sehingga disebut idiopatik. Sejumlah kondisi, termasuk infeksi virus maupun bakteri ketika daya tahan tubuh sedang menurun, disebut dapat berkaitan dengan munculnya peradangan pada saraf tersebut.
Di tengah masyarakat, wajah mencong juga sering dikaitkan dengan kebiasaan terkena angin malam maupun paparan kipas angin langsung. Menurut penjelasan Agustina, paparan udara dingin secara terus-menerus pada salah satu sisi wajah dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama ketika bersamaan dengan perubahan suhu ekstrem, infeksi maupun penyakit penyerta. Namun, masyarakat tetap dianjurkan tidak menyimpulkan penyebab hanya berdasarkan paparan angin dan perlu menjalani pemeriksaan medis.
Beberapa kelompok disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami Bell’s Palsy. Di antaranya orang berusia sekitar 40 tahun, penderita diabetes melitus, ibu hamil, serta mereka yang sedang mengalami infeksi saluran pernapasan.
Agustina juga mengingatkan pentingnya membedakan Bell’s Palsy dengan stroke. Pada Bell’s Palsy, gangguan berada pada saraf perifer di wajah sehingga kelumpuhan dapat mengenai seluruh bagian pada satu sisi wajah. Penderitanya antara lain bisa mengalami kesulitan mengerutkan dahi, menutup kelopak mata, menggerakkan bibir, hingga merasakan mata kering atau pedih. Sebagian pasien juga dapat mengalami perubahan sensasi rasa pada ujung lidah.
Sementara pada stroke, gangguan terjadi pada sistem saraf pusat atau otak. Menurut Agustina, kelumpuhan wajah pada stroke dapat lebih terlihat pada bagian bawah wajah, sedangkan dahi dan mata masih dapat digerakkan. Gejalanya juga dapat disertai kelemahan pada tangan atau kaki, gangguan berbicara, hingga kesulitan menelan.
Karena kemiripan gejala tersebut, seseorang yang mendapati wajahnya mendadak mencong tidak disarankan mendiagnosis sendiri. Pemeriksaan dokter diperlukan sesegera mungkin, terlebih bila keluhan wajah disertai kelemahan anggota gerak, gangguan bicara, kesulitan menelan atau gejala neurologis lain yang dapat mengarah pada kondisi kegawatdaruratan.
Penanganan Bell’s Palsy pada fase awal disesuaikan dengan kondisi pasien dan hasil pemeriksaan dokter. Dalam materi yang disampaikan Agustina, terapi dapat melibatkan pemberian obat untuk mengurangi peradangan serta pengobatan lain sesuai indikasi medis.
Rehabilitasi medik juga memiliki peran dalam proses pemulihan fungsi otot wajah. Pasien dapat diarahkan mengikuti latihan otot fasialis dan pijat yang bertujuan mempertahankan fungsi otot serta mengurangi risiko penyusutan otot wajah. Modalitas terapi fisik seperti infrared, Shortwave Diathermy (SWD), electrical stimulation maupun laser dapat digunakan apabila memang sesuai dengan indikasi pasien.
Selain terapi di fasilitas kesehatan, pasien dapat memperoleh edukasi mengenai latihan mandiri di rumah. Bentuknya antara lain kompres hangat, pijat wajah, serta latihan gerakan otot dengan bantuan cermin. Perlindungan pada mata juga menjadi perhatian karena sebagian penderita Bell’s Palsy mengalami kesulitan menutup kelopak mata atau berkedip. Penggunaan kacamata maupun tetes mata dapat disarankan sesuai kebutuhan dan petunjuk tenaga medis.
Masyarakat yang membutuhkan konsultasi terkait gangguan fungsi fisik dan rehabilitasi dapat mengakses pelayanan Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Jombang pada hari kerja, Senin hingga Jumat. Melalui pengenalan gejala sejak awal dan pemeriksaan yang tepat, masyarakat diharapkan tidak buru-buru menyamakan wajah mencong dengan stroke maupun menganggapnya semata-mata akibat terkena kipas angin.
Bell’s Palsy dan stroke memiliki lokasi gangguan serta karakteristik yang berbeda, meskipun sama-sama dapat menunjukkan perubahan pada wajah. Karena itu, kewaspadaan terhadap gejala dan pemeriksaan medis sedini mungkin menjadi langkah penting untuk memastikan diagnosis sekaligus menentukan terapi yang sesuai.
