Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperketat pengawasan keamanan pangan segar demi mendukung kelancaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Langkah ini bertujuan memastikan pangan yang dikonsumsi masyarakat, terutama anak-anak dan ibu hamil, terjaga mutunya dan bebas dari kontaminasi berbahaya.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menegaskan bahwa pengawasan pangan segar menjadi prioritas dalam program ini. Melalui pemantauan ketat terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pihaknya ingin memastikan bahwa makanan yang disediakan memenuhi standar keamanan dan kesehatan.
“Bapanas berkomitmen mendukung MBG dengan mengintensifkan pengawasan terhadap keamanan pangan segar. Ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan bergizi demi mewujudkan generasi sehat, aktif, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Arief di Jakarta, Jumat (14/3/2025).
Hasil pemantauan di beberapa SPPG menunjukkan bahwa fasilitas penyimpanan yang memadai, sumber air bersih yang diuji berkala, serta prosedur standar dalam pengolahan makanan telah diterapkan. Selain itu, Bapanas mendorong penerapan sertifikasi Prima 1, 2, dan 3 serta surveilans oleh Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah dan Pusat (OKKPD/OKKPP) kepada petani dan pelaku usaha agar memastikan pangan segar aman dari kontaminasi biologis, kimia, maupun benda asing lainnya.
Salah satu lokasi pemantauan adalah SPPG Yayasan Tahfidz Al-Quran Baitul Mukmin di Bekasi pada Rabu (12/3/2025). Program MBG di tempat ini berjalan dengan baik, menyediakan rata-rata 3.567 porsi makanan per hari bagi siswa dan penerima manfaat lainnya. Jasa boga mitra juga telah mengantongi Sertifikat Laik Sanitasi Higienis (SLSH) dari Dinas Kesehatan setempat serta menerapkan standar penyimpanan dan distribusi bahan pangan.
Hal serupa ditemukan di SPPG Kebanyunan Tapos 1-5 Depok yang dikelola oleh Yayasan Gerakan Solidaritas. Lima unit SPPG ini menyuplai lebih dari 15.000 porsi makanan setiap hari dengan standar kebersihan dan keamanan pangan yang ketat.
“Kami melihat komitmen dari pengelola dalam menjaga standar keamanan pangan. Namun, evaluasi berkala tetap diperlukan agar kualitas layanan tetap terjaga,” tambah Arief.
Selain meningkatkan pengawasan, Bapanas juga mendorong kemitraan dengan petani lokal dan UMKM untuk memastikan rantai pasok pangan dalam negeri tetap stabil dan berkelanjutan. Arief menekankan bahwa program ini harus memberikan dampak positif bagi ekosistem pangan secara keseluruhan, bukan sekadar proyek jangka pendek.
“Program ini harus berkelanjutan dan mampu meningkatkan ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung petani serta produsen pangan lokal,” ungkapnya.
Bapanas juga mendorong diversifikasi pangan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang lebih beragam dalam program MBG. Dengan cara ini, diharapkan ketahanan pangan semakin kuat dan masyarakat mendapatkan asupan gizi yang lebih baik.
Di sisi lain, Direktur Pengawasan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Hermawan, menjelaskan bahwa pihaknya juga melakukan uji keamanan pangan segar menggunakan rapid test kit untuk mendeteksi keberadaan residu pestisida atau zat berbahaya lainnya dalam bahan pangan MBG.
“Kami ingin memastikan bahwa pangan segar yang dikonsumsi benar-benar aman. Ini langkah preventif yang harus diperkuat,” ujarnya.
Program MBG yang diluncurkan awal 2025 bertujuan mengatasi permasalahan gizi buruk dan stunting di Indonesia serta mendukung tumbuh kembang anak-anak, kesehatan ibu hamil, dan kualitas pendidikan. Pada tahap awal, program ini menargetkan 19,5 juta penerima manfaat dengan penyediaan makanan bergizi seperti nasi, sayuran, ayam, dan susu.
Dengan berbagai langkah pengawasan dan penguatan rantai pasok, pemerintah berharap program ini dapat berjalan dengan optimal, memberikan manfaat jangka panjang, serta menciptakan generasi masa depan yang lebih sehat dan produktif.
