Sangatta – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kutai Timur Tejo Yuwono menyoroti permasalahan serius terkait pengelolaan organisasi masyarakat (ormas) di wilayahnya. Ditemukan sejumlah ormas yang menghilang setelah menerima dana hibah, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang akuntabilitas dan transparansi penggunaan dana tersebut.
“Saat ini, di Kutai Timur terdapat lebih dari 100 ormas yang terdaftar. Dalam dua minggu terakhir saja, ada 10 ormas baru yang mendaftar ke Bakesbangpol, termasuk beberapa ormas kedaerahan,” ungkap Tejo Yuwono dalam sebuah wawancara usai pelantikan Panwascam di Hotel Teras Balad Sangatta, Jumat (24/5/2024).
Prosedur Seleksi dan Evaluasi yang Ketat
Menanggapi masalah ini, Tejo menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan seleksi dan evaluasi secara ketat terhadap semua ormas yang terdaftar. Setiap ormas akan diperiksa satu per satu untuk memastikan kesesuaian dengan visi dan misi yang telah ditetapkan serta kelayakan dalam menerima hibah.
“Saat ini, pengawasan terhadap ormas belum optimal. Akan ada pengawasan administrasi dan pengawasan lapangan yang lebih intensif, terutama bagi ormas yang menerima bantuan,” tegasnya.
Langkah ini diambil berdasarkan saran dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk meningkatkan kontrol terhadap ormas.
“BPK menyarankan agar orman ini berada dibawah Bakesbangpol. Terutama ormas yang mendapatkan dana hibah,” ujarnya.
Pengawasan dan Tindak Lanjut
Tejo mengungkapkan bahwa selama ini ada ormas yang setelah mengurus pencairan dana, tiba-tiba menghilang tanpa pertanggungjawaban yang jelas. Menurutnya, selama ini lemahnya pengawasan terhadap ormas ini. Kedepan ia akan membentuk tim untuk pengawasan baik administrasi maupun pengwasan lapangan.
“Ini akan dievaluasi. Harus ada pengawasan yang ketat dan evaluasi menyeluruh, terutama terhadap ormas. Hibah yang diberikan harus signifikan dan tepat sasaran,” tambahnya.
Meningkatkan Kualitas Ormas
Selain pengetatan pengawasan, Bakesbangpol Kutai Timur juga merencanakan program bimbingan teknis (bimtek) pada tahun 2024 yang akan melibatkan sekitar 200 anggota ormas. Program ini bertujuan untuk memperkuat visi dan misi ormas, serta meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola organisasi dan melaksanakan program kerja yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap melalui bimtek ini, ormas-ormas di Kutai Timur dapat semakin solid dan berkontribusi positif bagi pembangunan daerah,” ujar Tejo.
Harapan ke Depan
Dengan implementasi prosedur seleksi yang jelas dan pengawasan yang ketat, diharapkan ormas di Kutai Timur tidak hanya tumbuh secara kuantitas tetapi juga meningkat kualitasnya. Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan bahwa ormas yang menerima bantuan benar-benar mampu memberikan dampak yang nyata dan positif bagi masyarakat sekitar.
Tejo Yuwono berharap bahwa melalui pendekatan ini, akan tercipta ormas-ormas yang lebih bertanggung jawab dan berintegritas tinggi, yang pada akhirnya dapat mendukung pembangunan daerah yang lebih baik dan berkelanjutan.
