Camilan legendaris ini telah menjadi ikon oleh-oleh Kalimantan Timur, terutama dari daerah seperti Kutai Timur, Balikpapan, hingga Samarinda. Amplang, si “kerupuk ikan meledak”, menyapa lidah dengan renyah khas, aroma laut yang lembut, dan rasa gurih yang bikin nagih.
Terbuat dari adonan ikan tenggiri atau pipih, dicampur tepung sagu, telur, dan bawang putih, Amplang dibentuk lonjong atau bulat kecil lalu digoreng hingga mengembang. Proses penggorengan inilah yang melahirkan bunyi “plak!” khas, yang menjadi asal nama “amplang” dari bahasa Banjar.
Kini, varian Amplang semakin beragam: dari rasa original tenggiri, pedas, daun bawang, hingga rasa kekinian seperti balado dan BBQ powder. Bahkan hadir dalam bentuk mini, cocok sebagai camilan anak muda.
“Amplang ini wajib dibawa pulang tiap habis dinas luar ke Sangatta. Ringan, enak, dan awet,” ujar Rendi, pegawai swasta asal Balikpapan yang kerap menyambangi Kutai Timur.
Di Kutim, Amplang bukan sekadar jajanan, tapi denyut ekonomi rumah tangga. UMKM seperti Amplang Ibu Sari (Sangatta), Karya Laut (Kenyamukan), hingga Rasa Alam (Muara Wahau) adalah contoh pelaku usaha yang mempertahankan kualitas dengan ikan segar lokal dan resep turun-temurun.
Dinas Pariwisata dan Perindustrian Kutai Timur pun menjadikan Amplang sebagai produk unggulan daerah. Tak hanya dipamerkan di festival seperti Mahakam Fair dan Ekspo Kaltim, Amplang juga diajarkan dalam pelatihan kewirausahaan pelajar dan program Bangga Buatan Indonesia.
Kini, era digital membawa Amplang ke panggung baru. Banyak produsen mulai memasarkan lewat Shopee, Tokopedia, TikTok, dan mengemas produknya dalam ziplock pouch premium. Bahkan, influencer kuliner lokal pun ikut mempopulerkannya ke khalayak yang lebih luas.
Dari warung tradisional di Teluk Pandan hingga toko oleh-oleh bandara, Amplang adalah bukti bahwa kuliner sederhana bisa jadi identitas kuat dan mendunia. Ia bukan hanya kerupuk—tapi jembatan rasa, budaya, dan peluang ekonomi rakyat Kalimantan Timur.
