Kebiasaan kecil yang awalnya terasa wajar mulai berubah jadi belenggu. Membuat skenario dalam kepala—tentang percakapan, pertengkaran, atau bahkan dunia alternatif—bukanlah hal yang asing bagi banyak orang. Tapi bagi sebagian, ini berkembang menjadi dunia paralel yang menyaingi kehidupan nyata.
Dalam keseharian yang tenang, mereka tampak biasa. Tapi di dalam kepala, mereka hidup sebagai pahlawan, pecinta, pemimpin, atau siapa saja yang ingin mereka jadi. Aktivitas ini bisa berlangsung berjam-jam. Tidak hanya dalam lamunan, tapi disertai pacing (berjalan bolak-balik), bergumam sendiri, bahkan tangisan atau tawa yang tak terkontrol.
Fenomena ini dikenal sebagai maladaptive daydreaming (MD). Tidak termasuk dalam DSM-5, namun banyak psikolog menyebutnya sebagai bentuk disosiatif akibat trauma atau gangguan kecemasan. Professor Tanya Byron menjelaskan bahwa MD bukan psikosis, karena pengalaminya tahu bahwa dunia imajinatif itu tidak nyata. Namun, ketergantungan terhadap dunia khayal bisa mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, dan kesehatan fisik.
Dalam banyak kasus, MD dipicu oleh rasa kesepian, stres, trauma, atau kondisi seperti ADHD, OCD, dan anxiety. Imajinasi ekstrem pun jadi semacam candu. Setiap kali realita menghimpit, mereka kabur ke dunia buatan yang lebih aman.
Ada pula istilah hyperphantasia, yakni kemampuan membayangkan detail visual sangat jelas. Digabung dengan sifat fantasy-prone personality, seseorang bisa merasa kenangan fiktif seolah benar terjadi—fenomena ini disebut imagination inflation.
Tetapi tidak semua imajinasi buruk. Banyak yang berhasil menyalurkan dunia khayalnya ke karya: menulis novel, menciptakan karakter, bahkan membangun komunitas cerita. Yang membedakan adalah: apakah fantasi itu menyembuhkan atau melarikan?
Mengelola MD membutuhkan kesadaran dan teknik: dari jurnal aktivitas, terapi perilaku, hingga grounding. Beberapa orang memilih mengalihkan energi ke bentuk ekspresi positif seperti menulis atau bermain peran. Yang lain mencari dukungan profesional untuk memahami akar emosionalnya.
Pada akhirnya, membuat skenario dalam kepala bukan penyakit. Ia bisa menjadi kekuatan kreatif, selama tidak mengambil alih kehidupan nyata. Seperti semua hal dalam hidup, kuncinya adalah keseimbangan.
