Mojokerto – Suara mendesis terdengar dari sebuah gerobak di depan Pasar Kutorejo, Kabupaten Mojokoerto hampir saban sore. Suara itu ternyata berasal dari uap yang menyembul dari lubang kukusan pembuat kue putu yang sengaja dibuka.
Jajanan tradisional puthu ayu masih diminati warga di Kecamatan Kutorejo, tepatnya di sekitar kawasan Pasar Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Salah satu pedagang puthu ayu berjualan di pinggir jalan kawasan permukiman Kutorejo setiap sore hingga malam hari dengan menggunakan gerobak sederhana.
Puthu ayu yang dijual merupakan makanan tradisional berbahan dasar tepung beras dan gula merah yang dimasak menggunakan cetakan bambu dan dikukus langsung di lokasi. Proses pembuatan dilakukan di tempat sehingga pembeli dapat melihat puthu ayu yang masih hangat saat disajikan. Selain puthu ayu, pedagang juga menyediakan beberapa jajanan tradisional lain sebagai pelengkap.
Seluruh bahan baku puthu ayu diperoleh dari pasar lokal dan diolah sendiri oleh pedagang. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, yakni Rp5.000 per porsi. Transaksi dilakukan secara langsung antara penjual dan pembeli tanpa sistem pembayaran digital.
Salah satu pembeli, Siti (32), mengatakan bahwa ia memilih membeli puthu ayu karena menyukai jajanan tradisional.
“Saya sering beli karena rasanya manis dan masih tradisional. Harganya juga murah dan mudah dijangkau,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Pedagang puthu ayu tersebut mulai berjualan sekitar pukul 16.00 WIB hingga dagangan habis. Dalam satu hari, jumlah pembeli dapat mencapai puluhan orang, terutama pada akhir pekan. Pembeli berasal dari warga sekitar serta pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.
Keberadaan pedagang puthu ayu ini menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat Kutorejo. Selain menjadi pilihan camilan, puthu ayu juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan kuliner tradisional yang masih diproduksi oleh warga lokal.
