Sidoarjo – Semangat menuntut ilmu tidak selalu berhenti ketika seseorang memasuki usia lanjut ataupun telah memiliki profesi mapan. Hal itu tergambar dalam Wisuda Magister, Sarjana, dan Diploma ke-24 Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA), yang berlangsung di Dyandra Convention Center Surabaya, Sabtu (7/11/2026).
Sebanyak 525 wisudawan mengikuti prosesi pengukuhan kelulusan dengan penuh khidmat. Namun, di antara ratusan lulusan tersebut, ada dua sosok yang kisah perjalanannya memberikan inspirasi tersendiri. Keduanya membuktikan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tinggi tetap terbuka tanpa dibatasi usia maupun latar belakang pekerjaan.
Mereka adalah Juyana, lulusan Program Studi S1 Kewirausahaan yang berhasil meraih gelar sarjana pada usia 60 tahun, serta dr. Wahyu Nur Chalamsah Setiawan, M.Si.Med., Sp.B(K) Onk., seorang dokter spesialis bedah onkologi yang berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Fakultas Hukum UMAHA.
Kisah keduanya menjadi gambaran bahwa kemauan untuk terus belajar merupakan modal penting dalam mengembangkan kapasitas diri. Pendidikan tidak hanya menjadi jalan memperoleh gelar akademik, tetapi juga sarana memperluas wawasan dan meningkatkan kualitas diri.
Rektor UMAHA, dr. Hidayatullah, Sp.N., menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya kepada seluruh wisudawan yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, setiap lulusan memiliki proses dan perjuangan masing-masing yang patut dihargai.
Ia berharap gelar akademik yang diperoleh tidak sekadar menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga dapat menjadi bekal untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan harus mampu diimplementasikan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Kami berharap lulusan UMAHA menjadi pribadi yang berintegritas, profesional, inovatif, serta memiliki kepedulian sosial,” ungkapnya.
Secara khusus, Rektor juga memberikan perhatian terhadap perjalanan akademik Juyana dan dr. Wahyu. Keduanya dinilai menunjukkan bahwa semangat belajar dapat terus tumbuh dalam berbagai situasi kehidupan.
“Kisah Pak Juyana dan dr. Wahyu merupakan gambaran bahwa semangat belajar tidak mengenal batas. Ada yang membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk meraih gelar sarjana, ada pula yang menunjukkan bahwa seseorang tetap perlu memperkaya keilmuan meskipun telah memiliki profesi dan kompetensi tertentu. Inilah semangat pendidikan yang ingin terus kami bangun di UMAHA, yaitu belajar sepanjang hayat dan terus memberikan manfaat,” tambahnya.
Bagi Juyana, keberhasilan menyandang gelar sarjana pada usia 60 tahun menjadi pencapaian yang membanggakan sekaligus membuktikan bahwa kesempatan untuk belajar tidak pernah tertutup.
Keputusan melanjutkan pendidikan tinggi dilandasi keinginan untuk menambah pengetahuan, memperluas wawasan, serta terus mengembangkan kemampuan diri. Ia tidak ingin usia menjadi alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa sampai pada tahap ini dan mengikuti wisuda bersama para wisudawan lainnya. Bagi saya, usia 60 tahun bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru kita harus terus memiliki semangat untuk menambah ilmu dan mengembangkan kemampuan diri. Saya ingin membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk meraih cita-cita. Selama masih ada kemauan dan kesempatan, jangan pernah takut untuk memulai,” tutur Juyana.
Semangat serupa juga ditunjukkan dr. Wahyu Nur Chalamsah Setiawan. Meski telah menekuni profesi sebagai dokter spesialis bedah onkologi, ia tetap merasa perlu memperluas pengetahuan melalui bidang keilmuan lain.
Kesibukan menjalankan tanggung jawab profesional tidak menyurutkan keinginannya untuk menempuh pendidikan S1 Fakultas Hukum UMAHA. Baginya, pemahaman hukum menjadi tambahan wawasan yang penting untuk melengkapi kompetensi yang telah dimiliki.
Ia menilai ilmu pengetahuan tidak semestinya dibatasi hanya pada satu disiplin. Berbagai bidang keilmuan memiliki keterkaitan dan dapat memberikan perspektif baru dalam menjalankan kehidupan maupun profesi.
“Sebagai seorang dokter, saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang dan kebutuhan untuk belajar tidak pernah berhenti. Saya memilih menempuh pendidikan hukum karena ingin memperluas wawasan dan memahami aspek hukum dari perspektif yang berbeda. Menurut saya, pemahaman lintas disiplin sangat penting, karena dalam kehidupan profesional kita tidak hanya berhadapan dengan aspek keilmuan utama, tetapi juga berbagai aspek lain yang saling berkaitan,” ungkap dr. Wahyu.
Ia menambahkan, selama menjalani pendidikan di Fakultas Hukum UMAHA, dirinya memperoleh pengalaman dan sudut pandang baru yang dapat memperkaya perjalanan akademik maupun profesional.
“Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang sudah dimiliki. Gelar dan profesi bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya secara bijaksana dan memberikan manfaat bagi orang lain,” tambahnya.
Kehadiran Juyana dan dr. Wahyu menjadi salah satu cerita menarik dalam pelaksanaan Wisuda Magister, Sarjana, dan Diploma ke-24 UMAHA. Keduanya membawa pesan bahwa pendidikan merupakan proses sepanjang hayat yang dapat dijalani siapa saja, tanpa harus terhalang usia, pekerjaan, maupun latar belakang pendidikan sebelumnya.
Melalui momentum wisuda tersebut, UMAHA kembali menegaskan komitmennya untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat dalam mengembangkan potensi, meningkatkan kompetensi, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari gelar yang berhasil diraih. Lebih dari itu, ilmu pengetahuan harus mampu diwujudkan melalui karya, pengabdian, dan kontribusi yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kisah dua wisudawan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai pendidikan dan tidak ada alasan untuk berhenti belajar selama kesempatan masih terbuka.(Wan)
