Bondowoso – Suasana meriah mewarnai Kecamatan Sumber Wringin, Kabupaten Bondowoso, Sabtu (29/8/2026). Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukosari Lor turut ambil bagian dalam Gerak Jalan Tapen–Sukosari–Sumber Wringin (Taring) ke-19 yang tahun ini dikemas semakin semarak dengan sentuhan pawai budaya.
Menempuh rute sekitar tujuh kilometer, peserta memulai perjalanan dari kawasan Tapen dan berakhir di Kantor Kecamatan Sumber Wringin. Kegiatan berlangsung mulai pukul 13.30 WIB hingga sekitar pukul 16.30 WIB.
Tak sekadar ikut berjalan, keluarga besar SPPG Sukosari Lor tampil membawa Pesona Adat Bali. Balutan budaya tersebut menjadi simbol pesan tentang keharmonisan, gotong royong, ketulusan, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Owner SPPG Sukosari Lor, Lusyanto atau H. Lus, mengatakan keikutsertaan dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk konsistensi keluarga besar SPPG dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI setiap tahun.
“Setiap tahun kami selalu ikut ambil bagian dalam memeriahkan dan memperingati HUT Kemerdekaan RI. Tahun ini kami membawa Pesona Adat Bali sebagai bentuk penghormatan terhadap kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, budaya Bali memiliki nilai luhur yang sejalan dengan semangat pengabdian SPPG Sukosari Lor dalam menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Budaya Bali mengajarkan kita tentang keluhuran, keharmonisan, dan ketulusan dalam mengabdi. Di usia Indonesia yang ke-81 tahun ini, kami ingin merefleksikan semangat tersebut bukan hanya lewat simbol budaya, tetapi melalui tindakan nyata, yakni mengabdi untuk kesehatan dan masa depan generasi bangsa,” tegasnya.
H. Lus menambahkan, momentum HUT ke-81 RI menjadi pengingat bahwa makna kemerdekaan harus terus diperluas. Menurutnya, perjuangan hari ini bukan lagi sekadar mempertahankan kemerdekaan, tetapi memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan bebas dari persoalan gizi.
“Merdeka itu bukan hanya bebas dari penjajahan. Anak-anak kita juga harus merdeka dari stunting dan gizi buruk!” tegas H. Lus.
Karena itu, seluruh unsur SPPG Sukosari Lor ikut turun langsung dalam pawai tersebut. Mulai dari relawan, juru masak hingga tim distribusi turut ambil bagian.
“Setiap hari, pahlawan-pahlawan gizi di belakang saya ini bergotong royong menyiapkan ribuan makanan bergizi untuk anak-anak di Kecamatan Sukosari. Hari ini kami membawa semangat itu ke tengah masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, kehadiran SPPG Sukosari Lor dalam Taring ke-19 bukan sekadar seremoni. Di balik semarak pawai budaya, ada pesan kuat bahwa pemenuhan gizi anak merupakan bagian dari perjuangan membangun masa depan Indonesia.
“Kami ingin menunjukkan bahwa SPPG Sukosari Lor bukan hanya kompak saat bekerja di dapur dan mendistribusikan makanan. Kami juga solid ketika membawa pesan tentang pentingnya gizi kepada masyarakat. Kami siap totalitas mengawal Program Makan Bergizi Gratis demi mencetak Generasi Emas Indonesia,” pungkasnya.
Semangat tersebut menjadi warna tersendiri dalam Taring ke-19. Pawai budaya tidak hanya menjadi ruang untuk merayakan kemerdekaan, tetapi juga menjadi panggung untuk menyuarakan bahwa perjuangan mencetak generasi sehat dan berkualitas harus dimulai dari pemenuhan gizi sejak dini.
