Ada pemandangan yang belakangan makin jarang kita temui. Puluhan layangan berwarna-warni memenuhi langit, sementara orang-orang dari berbagai usia berdiri di bawahnya sambil memegang gulungan benang. Pemandangan seperti itu hadir di hamparan sawah Rapack Gentong, Mangkurawang Darat, Tenggarong, pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Sekitar 60 layangan gapangan dengan beragam bentuk dan warna tampak menari mengikuti hembusan angin kemarau. Tidak ada panggung besar, tidak ada persaingan memperebutkan juara, dan tidak ada suasana kompetisi yang kaku. Yang ada justru tawa, obrolan, silaturahmi, serta keseruan para pelayang yang akhirnya bisa bertemu secara langsung.
Momen tersebut menjadi bagian dari kopdar atau kopi darat komunitas pelayang se-Kalimantan Timur. Bagi para peserta, acara ini punya arti yang jauh lebih dalam daripada sekadar menerbangkan layangan. Ini adalah ruang untuk bertemu, berbagi pengalaman, memperkenalkan tradisi kepada generasi muda, sekaligus menjaga budaya bermain layangan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kopdar Pelayang Kaltim: Saat Komunitas yang Selama Ini Bertemu di Layar Akhirnya Kumpul di Lapangan
Selama ini, banyak pelayang dari berbagai daerah di Kalimantan Timur hanya berinteraksi melalui grup WhatsApp dan media sosial. Mereka saling mengenal lewat nama akun, foto layangan, video saat manjer, hingga obrolan tentang teknik membuat kerangka dan mencari lokasi yang punya angin bagus.
Namun, pada kopdar pertama ini, interaksi virtual tersebut akhirnya berubah menjadi pertemuan nyata.
Pelayang Kota Raja “Manut Pusat” menjadi salah satu komunitas yang ikut menggerakkan kegiatan di Tenggarong sebagai tuan rumah. Selain itu, hadir pula komunitas dari Wahau East Borneo yang menempuh perjalanan cukup jauh untuk bergabung.
Langit Mangkurawang juga diramaikan oleh Pelayang Mahkota 2 Samarinda dan Pelayang Lempake. Peserta dari Bontang bahkan berencana menginap semalaman di sekitar lokasi. Alasannya sederhana, tetapi sangat dekat dengan para penghobi layangan. Kalau kondisi angin sedang bagus, rasanya sayang kalau sesi manjer bersama harus selesai hanya karena hari mulai gelap.
Dalam istilah komunitas pelayang, manjer merupakan aktivitas menerbangkan dan membiarkan layangan berada di udara. Ketika angin sedang bersahabat, aktivitas sederhana ini bisa berlangsung berjam-jam.
Ketua panitia, Andri, menegaskan bahwa kegiatan tersebut lebih mengutamakan silaturahmi daripada kompetisi. Tidak ada target siapa yang layangannya paling tinggi atau siapa yang harus pulang membawa hadiah. Semua datang dengan tujuan yang kurang lebih sama, bertemu sesama pelayang, menikmati angin, dan berbagi kecintaan terhadap layangan.
Justru konsep seperti inilah yang membuat suasana kopdar terasa lebih hangat. Tidak ada tekanan untuk menjadi yang terbaik. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga pelayang yang sudah berusia lanjut bisa berdiri di tempat yang sama dan menikmati keseruan yang sama.
Lebih menarik lagi, acara ini bukan hanya diikuti oleh warga Kukar. Kehadiran komunitas dari Samarinda, Lempake, Bontang, hingga Wahau menunjukkan bahwa hobi layangan mampu menciptakan jaringan pertemanan lintas daerah.
Rencana untuk mengadakan kopdar berikutnya di Bontang, Bukuan, atau daerah lain di Kalimantan Timur juga menjadi sinyal bahwa pertemuan ini diharapkan tidak berhenti sebagai acara satu kali.
Dari Bilah Bambu ke Langit: Kenapa Layangan Masih Punya Tempat di Hati Banyak Orang?
Bagi sebagian orang, layangan mungkin terlihat seperti permainan sederhana. Hanya membutuhkan bilah bambu, bahan untuk membuat badan layangan, benang, serta angin yang cukup. Namun, bagi para pelayang, proses di baliknya jauh lebih menarik.
Membuat layangan membutuhkan ketelitian. Bilah bambu harus dipilih dan dibentuk dengan tepat agar kerangka seimbang. Ukuran, berat, bentuk, hingga titik keseimbangan dapat memengaruhi karakter layangan ketika sudah berada di udara.
Karena itulah, layangan sebenarnya bukan cuma soal “bikin lalu terbang”. Ada keterampilan, pengalaman, kreativitas, dan pengetahuan tentang kondisi angin yang ikut bermain.
Tradisi bermain layangan juga punya sejarah panjang di Indonesia. Di sejumlah daerah, layangan telah menjadi bagian dari hiburan masyarakat dan diwariskan lintas generasi. Bagi masyarakat Jawa, termasuk mereka yang kemudian menetap di Kalimantan Timur, bermain layangan saat musim kemarau menjadi salah satu bentuk hiburan rakyat yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu peserta dari Bontang bahkan menceritakan pengalaman tentang kampung halamannya di Blitar. Di sana, layangan disebut begitu dekat dengan kehidupan masyarakat hingga hampir setiap rumah memiliki layangan.
Cerita tersebut memperlihatkan bahwa permainan ini punya nilai nostalgia yang kuat. Orang yang dulu menerbangkan layangan bersama teman-temannya saat kecil, kini bisa kembali melakukannya ketika sudah dewasa, bahkan bersama anak atau cucu.
Yang paling menarik, layangan mampu mempertemukan berbagai generasi.
Anak sekolah dasar bisa belajar mengendalikan benang dari orang yang lebih berpengalaman. Remaja dapat mulai mencoba membuat layangan sendiri. Sementara para pelayang senior bisa berbagi teknik, pengalaman, dan cerita yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun.
Ketika satu layangan berhasil naik tinggi, tidak peduli siapa yang menerbangkannya, reaksi yang muncul hampir sama, yakni senang.
Hal sederhana seperti inilah yang membuat layangan tetap relevan. Di tengah kehidupan yang semakin digital, sebuah permainan tradisional masih mampu menghadirkan interaksi langsung yang tidak bisa digantikan layar smartphone.
Layangan Kaltim Menghadapi Tantangan Zaman, dari Minimnya Lahan hingga Regenerasi
Menjaga tradisi layangan tentu bukan tanpa tantangan. Salah satu masalah terbesar adalah semakin terbatasnya ruang terbuka.
Lapangan, sawah, dan lahan kosong yang dulu mudah ditemukan kini banyak berubah menjadi kawasan permukiman, pertokoan, maupun bangunan lainnya. Padahal, aktivitas menerbangkan layangan membutuhkan ruang yang cukup luas dan aman.
Faktor keselamatan juga tidak boleh dianggap sepele. Area yang berdekatan dengan jaringan listrik tegangan tinggi jelas bukan tempat yang aman untuk menerbangkan layangan. Begitu pula kawasan di sekitar bandara dan lokasi lain yang memiliki risiko terhadap keselamatan penerbangan.
Artinya, komunitas pelayang membutuhkan ruang terbuka yang aman agar hobi sekaligus tradisi ini dapat terus berjalan.
Tantangan berikutnya datang dari perubahan gaya hidup generasi muda. Anak-anak saat ini tumbuh bersama smartphone, media sosial, dan berbagai jenis permainan digital. Aktivitas di luar ruangan seperti membuat kerangka layangan, meraut bambu, memasang benang, hingga menunggu angin tentu menghadapi persaingan yang berbeda dibanding masa lalu.
Jika tidak ada proses regenerasi, bukan mustahil keterampilan membuat dan menerbangkan layangan perlahan semakin jarang diwariskan.
Karena itu, kopdar komunitas pelayang memiliki peran yang cukup penting. Anak-anak yang hadir bukan sekadar melihat layangan terbang, tetapi bisa menyaksikan langsung bagaimana orang dewasa membuat, memasang, dan menerbangkannya.
Proses belajar tersebut tidak harus dilakukan secara formal. Cukup dengan mengajak anak ikut membuat kerangka, menjelaskan fungsi setiap bagian, atau mengajarinya memegang benang dengan benar. Dari kegiatan sederhana itulah regenerasi dapat dimulai.
Bukan Cuma Nostalgia, Ini Cara Biar Tradisi Layangan Kaltim Tetap Terbang Tinggi
Agar tradisi bermain layangan tidak berhenti sebagai nostalgia, diperlukan langkah nyata dari komunitas, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Pertama, kopdar pelayang se-Kalimantan Timur bisa dibuat sebagai agenda rutin tahunan. Lokasinya dapat bergantian sehingga komunitas dari berbagai daerah memiliki kesempatan menjadi tuan rumah. Konsep tersebut sekaligus dapat memperluas jaringan pelayang dan memperkenalkan potensi daerah masing-masing.
Kedua, pemerintah daerah dapat membantu menyediakan atau mempertahankan ruang terbuka yang aman untuk aktivitas komunitas. Ruang tersebut tidak harus dibuat khusus sebagai arena layangan, tetapi dapat berupa area terbuka yang memang diperbolehkan untuk kegiatan rekreasi masyarakat.
Ketiga, pelibatan anak-anak dan remaja perlu dibuat lebih aktif. Mereka bukan hanya penonton, tetapi juga dapat dilibatkan dalam workshop sederhana tentang pembuatan layangan. Dari sini, keterampilan tradisional bisa diwariskan dengan cara yang lebih menyenangkan dan sesuai dengan generasi sekarang.
Keempat, komunitas dapat memanfaatkan media sosial untuk mendokumentasikan aktivitas mereka. Foto proses pembuatan layangan, video saat manjer, cerita para pelayang senior, hingga tutorial sederhana dapat menjadi arsip digital sekaligus cara memperkenalkan budaya layangan kepada masyarakat yang lebih luas.
Dengan begitu, tradisi lama tidak harus melawan teknologi. Justru teknologi bisa dipakai sebagai alat untuk membuat tradisi semakin dikenal.
Sekitar 60 layangan yang memenuhi langit Mangkurawang pada 22 Agustus 2026 bukan sekadar pemandangan menarik di tengah sawah. Di balik setiap layangan ada tangan yang membuatnya, ada cerita perjalanan dari daerah lain, ada persahabatan yang terjalin, dan ada tradisi yang sedang diperjuangkan agar tetap hidup.
Kopdar pelayang se-Kalimantan Timur menunjukkan bahwa kebahagiaan kadang memang tidak membutuhkan sesuatu yang rumit. Cukup ruang terbuka, angin yang bersahabat, seutas benang, layangan yang berhasil mengudara, dan orang-orang yang punya kegemaran sama.
Di tengah zaman ketika banyak orang semakin sibuk dengan layar masing-masing, para pelayang justru memilih mendongak bersama.
Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari sebuah layangan. Bukan hanya terbang tinggi di langit, tetapi juga membawa kenangan, mempertemukan manusia, serta membantu sebuah tradisi tetap bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Oleh: Riyawan, S.Hut
Pemerhati Sosial & Budaya
