Trenggalek – Kawasan pesisir Kili-Kili kini diarahkan menjadi “ruang hidup bagi ilmu pengetahuan” melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan Universitas Brawijaya (UB). Kerja sama yang diinisiasi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan bersama Pusat Studi Pesisir dan Kelautan UB itu memperluas pendekatan konservasi, dari yang sebelumnya banyak berfokus pada penyu menjadi kajian menyeluruh terhadap keanekaragaman hayati di kawasan pesisir.
Kolaborasi tersebut dikembangkan melalui pembentukan Living Laboratory atau Laboratorium Hidup yang berorientasi pada penelitian dan konservasi keanekaragaman hayati pesisir. Program ini menjadi ruang pertemuan antara akademisi, pemerintah daerah, kelompok masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menjaga kawasan Kili-Kili dengan pendekatan berbasis data ilmiah. Lingkup kajian tidak hanya menyentuh populasi dan habitat penyu, tetapi juga mikroorganisme, berbagai jenis tumbuhan, hingga potensi sumber daya hayati lain yang terdapat di pesisir Kabupaten Trenggalek.
Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Fuad, menyampaikan bahwa inisiatif tersebut menjadi “wujud nyata kesadaran bersama” antara kampus, pemerintah, serta seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan beserta kekayaan hayati di dalamnya.
Menurut Fuad, upaya konservasi membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar tidak hanya menjadi program jangka pendek. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai penting untuk memastikan kawasan pesisir tetap memiliki fungsi ekologis sekaligus dapat menjadi ruang pembelajaran yang memberi manfaat dalam jangka panjang.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, juga menilai keberadaan laboratorium tersebut dapat menjadi ruang bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mendukung masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
“Ruang pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mendukung upaya masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga ekosistem pesisir,” demikian gagasan yang disampaikan Prof. Widodo terkait pengembangan Living Laboratory tersebut.
Pengembangan penelitian melalui laboratorium hidup itu diharapkan menghasilkan informasi ilmiah yang lebih lengkap mengenai kondisi ekosistem Kili-Kili. Kajian dapat mencakup hubungan antara organisme pesisir, vegetasi, mikroorganisme, karakter habitat, hingga potensi hayati lain yang selama ini belum dipetakan secara mendalam. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan metode konservasi yang lebih tepat.
Keterlibatan Universitas Brawijaya di kawasan tersebut bukanlah langkah yang baru dimulai. UB telah mendampingi kegiatan pelestarian penyu bersama Kelompok Masyarakat Pengawas atau Pokmaswas setempat sejak 2010. Pendampingan tersebut diawali oleh Ir. Sukandar dan berkembang menjadi kerja sama konservasi yang berlangsung selama bertahun-tahun antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menekankan bahwa pengelolaan kawasan konservasi yang melibatkan warga perlu diperkuat dengan penelitian dan data ilmiah. Pendekatan tersebut dinilai mampu memberikan dasar yang lebih kuat bagi pemerintah maupun kelompok masyarakat dalam menentukan kebijakan dan teknik pengelolaan kawasan.
“Dukungan berbasis data dan ilmu pengetahuan sangat penting untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi yang melibatkan masyarakat,” tegas Mochamad Nur Arifin.
Menurut Arifin, pengelolaan kawasan dapat semakin optimal apabila ditopang oleh sejumlah unsur secara bersamaan. Selain teknik konservasi berbasis data, keterlibatan pendanaan pihak swasta dan dukungan regulasi pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan. Terlebih, wilayah tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial sehingga membutuhkan tata kelola yang mampu mempertahankan fungsi ekologisnya.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek berkomitmen melanjutkan penguatan regulasi, termasuk mengenai tata kelola kawasan serta pemanfaatan kawasan hutan oleh Pokmaswas. Penguatan aturan diperlukan agar aktivitas konservasi masyarakat memiliki kepastian sekaligus tetap berjalan sesuai prinsip perlindungan lingkungan.
Arifin berharap kerja sama antara pemerintah daerah, Universitas Brawijaya, dan masyarakat tidak berhenti pada momentum peresmian Living Laboratory. Program tersebut diharapkan berkembang menjadi sistem pembelajaran, penelitian, serta konservasi yang berlangsung secara berkelanjutan dan dapat mengikuti perubahan kondisi lingkungan.
Pembentukan Living Laboratory sekaligus mempertegas perjalanan panjang kolaborasi konservasi di Kili-Kili. Setelah pendampingan penyu berlangsung sejak 2010, kerja sama kini memasuki cakupan yang lebih luas dengan menempatkan seluruh keanekaragaman hayati pesisir sebagai bagian penting dalam penelitian dan perlindungan lingkungan. Melalui dukungan ilmu pengetahuan, regulasi, serta keterlibatan masyarakat, kawasan Kili-Kili diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan pesisir berbasis sains yang berkelanjutan.
