Malang – Ikan patin menjadi salah satu komoditas perikanan yang memiliki potensi besar di Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Melimpahnya hasil budidaya ikan patin di desa tersebut selama ini sebagian besar dimanfaatkan dengan cara diolah menjadi fillet dan kemudian dijual kepada pemborong. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Pengabdian Kepada Masyarakat Bakti Akademisi untuk Negeri (PKM-Bahari) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya untuk menghadirkan inovasi pengolahan ikan patin menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah sekaligus lebih menarik bagi masyarakat, khususnya anak-anak.
Inovasi tersebut diwujudkan melalui program “Diversifikasi Ikan Patin Menjadi Kaki Naga” yang dilaksanakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kegiatan ini menyasar ibu-ibu PKK Desa Sukorejo sebagai peserta utama dengan tujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah ikan patin menjadi produk pangan yang praktis, menarik, dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai produk usaha.
Kegiatan diawali dengan pengenalan mengenai potensi ikan patin serta pentingnya diversifikasi hasil perikanan. Mahasiswa menjelaskan bahwa ikan patin tidak harus selalu dijual dalam bentuk fillet kepada pemborong, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Salah satu produk yang diperkenalkan adalah kaki naga ikan patin yang memiliki bentuk menarik dan praktis untuk dikonsumsi.
Setelah penyampaian materi, ibu-ibu PKK diajak mengikuti demonstrasi dan praktik pembuatan kaki naga ikan patin secara langsung. Seluruh tahapan pembuatan dijelaskan secara bertahap, mulai dari persiapan bahan, pengolahan daging ikan patin, pembuatan adonan, pembentukan kaki naga, pelapisan, hingga proses pemasakan. Demonstrasi dan penjelasan mengenai proses pembuatan kaki naga disampaikan oleh Naia Reswanda dan Angellia Fransisca Nurfauzan Febriyanti.
Kegiatan berlangsung secara interaktif karena peserta tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi juga turut mempraktikkan proses pengolahan bersama mahasiswa. Melalui kegiatan tersebut, ibu-ibu PKK memperoleh keterampilan baru yang dapat diterapkan di rumah maupun dikembangkan menjadi peluang usaha berbasis pangan lokal.
Selain praktik pengolahan, kegiatan juga dilengkapi dengan penyampaian materi mengenai stunting dan pentingnya pemenuhan gizi bagi anak. Materi tersebut disampaikan oleh Adila Raira Tsuraya, yang memberikan pemahaman kepada ibu-ibu PKK mengenai pentingnya asupan makanan bergizi dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Peserta juga diberikan edukasi mengenai pemanfaatan bahan pangan lokal, termasuk ikan patin, sebagai salah satu sumber protein dalam menu keluarga. Penyampaian materi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola konsumsi pangan yang beragam dan bergizi sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
Pengolahan ikan patin menjadi kaki naga juga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan minat anak dalam mengonsumsi ikan. Bentuk dan penyajian yang lebih menarik diharapkan dapat membuat produk berbahan dasar ikan lebih mudah diterima oleh anak-anak. Dengan demikian, diversifikasi hasil perikanan tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga dapat diarahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan bergizi di tingkat keluarga.
Salah satu peserta dari ibu-ibu PKK menyampaikan bahwa inovasi tersebut memberikan perspektif baru dalam pemanfaatan ikan patin.
“Ini inovasi baru buat kami. Apalagi bentuknya seperti nugget, jadi bisa lebih menggugah selera anak untuk makan ikan,” ungkap Titik Amimurti, Ketua PKK Desa Sukorejo, sebagai salah satu peserta kegiatan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi produk perikanan tidak hanya dapat memberikan nilai ekonomi tambahan, tetapi juga menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan minat anak dalam mengonsumsi ikan.
Tidak berhenti pada proses produksi dan edukasi gizi, peserta juga mendapatkan materi mengenai pemasaran produk. Materi marketing disampaikan oleh Abdul Muttolib, yang menjelaskan bahwa keberhasilan produk olahan tidak hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga oleh cara produk dikemas dan dipasarkan. Peserta diperkenalkan pada pentingnya menentukan target konsumen, membuat kemasan yang menarik, memberikan informasi produk, menentukan harga yang sesuai, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi.
Materi pemasaran tersebut menjadi bagian penting karena kaki naga ikan patin memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk usaha rumah tangga. Dengan adanya strategi pemasaran yang tepat, ikan patin yang sebelumnya lebih banyak dijual sebagai fillet kepada pemborong dapat memiliki alternatif rantai nilai yang lebih panjang melalui proses pengolahan, pengemasan, dan pemasaran langsung kepada konsumen.
Program diversifikasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Desa Sukorejo. Ibu-ibu PKK tidak hanya memperoleh resep dan keterampilan baru dalam mengolah ikan patin, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai gizi, pencegahan stunting, serta gambaran mengenai peluang pengembangan produk menjadi usaha bernilai ekonomi. Di sisi lain, masyarakat dapat semakin mengenali bahwa potensi budidaya ikan patin yang dimiliki desa dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan inovatif.
Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 1 (No Poverty) didukung melalui upaya meningkatkan nilai tambah komoditas ikan patin dan membuka peluang usaha bagi masyarakat. SDG 3 (Good Health and Well-being) diwujudkan melalui edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak, pencegahan stunting, serta pengenalan produk pangan berbasis ikan sebagai salah satu sumber protein. SDG 4 (Quality Education) diwujudkan melalui transfer pengetahuan dan keterampilan mengenai pengolahan ikan, gizi, pencegahan stunting, serta pemasaran produk kepada masyarakat.
Selanjutnya, program ini mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pengembangan keterampilan dan peluang ekonomi berbasis potensi perikanan lokal. Sementara itu, SDG 17 (Partnerships for the Goals) tercermin melalui kolaborasi antara mahasiswa PKM-Bahari dan masyarakat Desa Sukorejo, khususnya ibu-ibu PKK, dalam mengembangkan potensi lokal secara bersama-sama.
Melalui kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026 ini, diversifikasi ikan patin menjadi kaki naga menjadi salah satu langkah sederhana untuk memperluas pemanfaatan komoditas perikanan Desa Sukorejo. Tidak hanya menghasilkan alternatif produk dengan nilai jual lebih tinggi, inovasi tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan pangan lokal yang lebih menarik bagi anak-anak sekaligus memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk usaha.
Diharapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat sehingga potensi ikan patin Desa Sukorejo dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan.
