Bondowoso – Semarak kemerdekaan dan Hari Jadi Kabupaten Bondowoso (Harjabo) ke-207 terasa berbeda di TK Al Muhibbin Bondowoso. Sabtu (22/8/2026), siswa, guru, dan orang tua larut dalam Pawai Budaya dengan balutan busana adat Nusantara, maskot penuh warna, serta semangat persatuan yang menggambarkan wajah Indonesia dalam keberagaman.
Bukan sekadar pawai, kegiatan tersebut menjadi panggung kecil bagi anak-anak untuk mengenal kekayaan budaya Indonesia sejak usia dini. Satu per satu siswa tampil percaya diri dengan pakaian adat dari berbagai daerah, menciptakan pemandangan penuh warna sekaligus mengajarkan bahwa perbedaan merupakan bagian dari keindahan Indonesia.
Antusiasme terlihat dari wajah polos para siswa. Dengan senyum, langkah kecil, dan kebanggaan mengenakan busana daerah, mereka seolah membawa pesan bahwa mengenal Indonesia bisa dimulai dari hal sederhana.
Salah satunya Muhammad Kafeel Al Farizqi, murid TK B TK Al Muhibbin. Kafeel tampil mengenakan busana adat Padang, Sumatera Barat. Dengan wajah polos, ia mengaku bangga dan senang bisa ikut ambil bagian dalam pawai.
“Aku pakai baju adat Padang. Bajunya bagus, ada hiasan di kepalanya. Aku senang pakai baju ini dan senang ikut pawai sama teman-teman,” ujar Kafeel polos.
Tak kalah mencuri perhatian, kemunculan maskot di barisan pawai membuat suasana semakin meriah. Dengan kostum unik bernuansa fantasi, lengkap dengan sayap besar berwarna putih dan berbagai aksesori, maskot tersebut menjadi magnet perhatian anak-anak maupun masyarakat yang menyaksikan.
Maskot itu bukan sekadar penghias barisan. Kehadirannya menjadi simbol kreativitas sekolah dalam menghadirkan pembelajaran budaya dengan cara yang dekat dengan imajinasi anak-anak. Sosok yang unik dan penuh warna tersebut membuat siswa semakin bersemangat mengikuti pawai hingga akhir.
Perpaduan busana adat Nusantara dan maskot penuh imajinasi menjadikan pawai semakin hidup. Di balik keceriaan itu, terselip pesan pendidikan yang kuat: keberagaman dapat dikenalkan tanpa harus membuat anak merasa sedang belajar. Mereka cukup melihat, mengenakan, merasakan, dan berjalan bersama.
Kepala TK Al Muhibbin Bondowoso, Halimatus Sakdiyah, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut sengaja dikemas secara menyenangkan agar anak-anak memahami makna persatuan melalui pengalaman yang mereka sukai.
“Anak-anak kami ajak mengenal keberagaman Indonesia dengan cara yang menyenangkan. Mereka belajar bahwa meskipun memiliki pakaian adat, budaya, dan kebiasaan yang berbeda, semuanya tetap bagian dari satu Indonesia,” tuturnya.
Menurut Halimatus Sakdiyah, pendidikan keberagaman tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Melalui pawai budaya, anak-anak mendapatkan pengalaman langsung untuk mengenal, menghargai, dan mencintai kekayaan budaya bangsa.
Dukungan para orang tua juga menjadi bagian penting dalam kemeriahan kegiatan. Mereka turut menyiapkan busana, mendampingi anak-anak, serta memberikan semangat sepanjang pawai. Kolaborasi tersebut membuat kegiatan tidak hanya menjadi agenda sekolah, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan antara anak, guru, dan keluarga.
Pawai budaya TK Al Muhibbin akhirnya bukan hanya meninggalkan jejak langkah kecil di sepanjang rute pawai. Ia meninggalkan pesan yang jauh lebih besar: bahwa Indonesia yang kuat dibangun dari generasi yang sejak dini belajar menghargai perbedaan.
Dari kepala-kepala kecil yang mengenakan mahkota dan penutup kepala adat, dari warna-warni busana Nusantara, hingga maskot bersayap yang berjalan penuh percaya diri, semuanya berpadu dalam satu semangat.
Bhinneka Tunggal Ika — berbeda-beda tetapi tetap satu. Karena dari keberagaman itulah Indonesia menjadi indah, dan dari anak-anak kecil inilah harapan persatuan Indonesia terus tumbuh.
