Boyolali – “Gumregut Nyawiji” menjadi napas peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah yang dipusatkan di Alun-alun Kidul, Kabupaten Boyolali, Rabu (19/8/2026). Bukan sekadar seremoni pertambahan usia, momentum tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan pembangunan Jawa Tengah sekaligus menguatkan semangat bergerak bersama dalam menghadapi tantangan daerah ke depan.
Upacara Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah berlangsung dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pelajar, petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mantan gubernur, hingga tokoh masyarakat. Kehadiran berbagai elemen tersebut memperlihatkan pesan utama peringatan tahun ini, yakni pembangunan tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan dan kekuatan bersama seluruh lapisan masyarakat.
Tema “Gumregut Nyawiji” membawa pesan agar masyarakat Jawa Tengah terus bergerak dengan semangat, bersatu, serta menjaga budaya gotong royong dalam mendukung pembangunan. Semangat tersebut sekaligus menjadi refleksi atas berbagai capaian yang telah diraih Jawa Tengah sepanjang perjalanan 81 tahun dan menjadi pengingat bahwa tantangan pembangunan masih harus dihadapi secara kolektif.
Nuansa kebangsaan semakin kuat ketika Antea Putri Turk, remaja berusia 17 tahun yang merupakan cicit Ngadini Soepratini, kakak kandung komponis Wage Rudolf Soepratman, tampil dalam rangkaian upacara. Antea membawakan sejumlah karya sang maestro dan menyita perhatian ratusan peserta yang hadir.
Salah satu penampilan yang menjadi sorotan adalah lagu “Indonesia Raya” dalam versi tiga stanza. Lagu tersebut dibawakan dengan merujuk pada lirik serta notasi awal karya WR Soepratman pada 1928, menghadirkan kembali salah satu bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa dalam suasana peringatan hari jadi Jawa Tengah.
Versi tersebut merujuk pada karya WR Soepratman yang pernah dipublikasikan melalui majalah Sin Po. Selain itu, lagu itu juga pernah dimuat dalam pamflet yang diterbitkan sendiri oleh WR Soepratman dengan judul “Indonesia Raja – Lagoe Kebangsaan Indonesia” pada November 1928.
Penampilan Antea memberikan warna tersendiri dalam upacara. Kehadirannya tidak semata menjadi pertunjukan seni, tetapi juga membawa peserta kembali pada jejak sejarah lahirnya semangat kebangsaan dan persatuan Indonesia.
Lagu “Indonesia Raya” tiga stanza yang dibawakan di tengah peringatan Hari Jadi Jawa Tengah sekaligus menjadi pengingat bahwa persatuan merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun bangsa maupun daerah. Pesan tersebut selaras dengan semangat “Gumregut Nyawiji” yang menempatkan kebersamaan sebagai kekuatan utama pembangunan.
Memasuki usia 81 tahun, Jawa Tengah menghadapi kebutuhan untuk terus menjaga kesinambungan pembangunan dengan melibatkan masyarakat secara lebih luas. Perayaan hari jadi pun dirancang tidak hanya berpusat pada upacara, namun juga menghadirkan berbagai kegiatan yang menyentuh aspek ketenagakerjaan, ekonomi kreatif, UMKM, seni, dan budaya.
Sejumlah agenda disiapkan untuk memeriahkan rangkaian Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah. Salah satunya adalah Job Fair yang diharapkan menjadi sarana mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan sekaligus membuka lebih banyak akses terhadap peluang pekerjaan.
Pameran UMKM juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan. Kegiatan tersebut memberikan ruang kepada pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk, memperluas pasar, sekaligus membangun jejaring dengan masyarakat maupun pelaku ekonomi lainnya.
Keterlibatan UMKM memiliki arti penting karena kelompok usaha tersebut menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Melalui momentum hari jadi, promosi terhadap produk lokal diharapkan semakin luas sehingga kegiatan perayaan juga memberikan dampak ekonomi secara langsung.
Selain kegiatan ekonomi, rangkaian peringatan turut diisi agenda hiburan masyarakat. Konser KLA Project dijadwalkan menjadi salah satu pertunjukan yang dihadirkan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Jawa Tengah.
Masyarakat juga dapat menikmati sajian kuliner gratis berupa soto dan nasi tumpang. Kehadiran kuliner tersebut semakin menegaskan bahwa peringatan hari jadi diarahkan menjadi ruang bersama yang dapat dinikmati berbagai kalangan, bukan sekadar kegiatan formal pemerintahan.
Rangkaian agenda itu diharapkan mampu mempertemukan berbagai kepentingan dalam satu momentum. Di satu sisi, masyarakat memperoleh ruang hiburan dan kebersamaan. Di sisi lain, pelaku UMKM memiliki kesempatan promosi, pencari kerja mendapatkan akses terhadap lowongan, dan produk serta identitas lokal semakin diperkenalkan kepada publik.
Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah juga menjadi momentum untuk menilai perjalanan pembangunan yang telah dilalui. Berbagai sektor terus berkembang seiring kebutuhan masyarakat, sementara pemerintah daerah dituntut memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata hingga ke berbagai wilayah.
Semangat “Gumregut Nyawiji” kemudian menjadi pesan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari infrastruktur atau kegiatan ekonomi. Persatuan, keterlibatan masyarakat, rasa memiliki terhadap daerah, serta kemampuan menjaga nilai kebersamaan juga menjadi bagian penting dalam menentukan arah Jawa Tengah ke depan.
Keikutsertaan pelajar dalam upacara memberi pesan tersendiri mengenai pentingnya regenerasi. Generasi muda nantinya akan menjadi penerus pembangunan sehingga nilai sejarah, nasionalisme, gotong royong, dan kecintaan terhadap daerah perlu terus dikenalkan sejak dini.
Begitu pula kehadiran petani dan pelaku UMKM menggambarkan bahwa pembangunan Jawa Tengah memiliki wajah yang luas. Mereka merupakan bagian dari masyarakat yang menopang aktivitas ekonomi daerah dan membutuhkan ruang serta dukungan agar dapat terus berkembang.
Kehadiran mantan gubernur dan tokoh masyarakat juga memperkuat dimensi refleksi dalam peringatan tersebut. Perjalanan panjang Jawa Tengah dibentuk oleh berbagai generasi kepemimpinan serta kontribusi masyarakat dari masa ke masa.
Karena itu, usia 81 tahun bukan hanya angka, tetapi menjadi titik untuk melihat sejauh mana pembangunan telah berjalan dan apa yang masih harus diperbaiki. Tantangan ke depan membutuhkan kerja bersama agar pertumbuhan daerah tetap sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Melalui peringatan Hari Jadi ke-81 ini, Jawa Tengah kembali menegaskan semangat bergerak dalam satu arah. “Gumregut Nyawiji” menjadi ajakan untuk menyatukan energi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, generasi muda, serta seluruh elemen daerah agar pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Dengan semangat kebersamaan tersebut, Jawa Tengah memasuki usia 81 tahun dengan membawa refleksi masa lalu sekaligus harapan baru. Perayaan di Boyolali menjadi simbol bahwa pembangunan harus terus bergerak, ekonomi masyarakat diperkuat, kesempatan kerja diperluas, budaya dirawat, dan persatuan tetap menjadi pondasi utama dalam membawa Jawa Tengah menuju masa depan.
