Jakarta – Bayangan benda tegak yang biasanya dianggap hal biasa akan menjadi penunjuk arah paling presisi pada pertengahan Juli 2026. Melalui fenomena astronomi Rashdul Qiblat, Kementerian Agama RI menginisiasi Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat sebagai upaya memverifikasi sekaligus mengoreksi arah kiblat jutaan masjid, musala, sekolah, rumah, hingga berbagai fasilitas publik di seluruh Indonesia.
Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat memanfaatkan momentum ketika Matahari berada tepat di atas Ka’bah, yaitu pada 15 dan 16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA. Pada saat tersebut, bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan mengarah tepat ke kiblat sehingga masyarakat dapat melakukan pengecekan secara mandiri tanpa peralatan khusus. Program ini terbuka bagi takmir masjid, pengelola musala, Kantor Urusan Agama (KUA), sekolah, pesantren, instansi pemerintah, hingga masyarakat umum.
Kementerian Agama menargetkan verifikasi dilakukan di sekitar 1.448.000 titik di seluruh Indonesia. Angka tersebut dipilih sebagai simbol tahun 1448 Hijriah sekaligus menjadi target nasional untuk meningkatkan akurasi arah kiblat di berbagai tempat ibadah dan fasilitas masyarakat. Sasaran verifikasi meliputi masjid, musala, rumah penduduk, hotel, sekolah, madrasah, hingga kantor pemerintahan.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak awal Juni 2026. Tahap pertama berupa sosialisasi dan pembukaan portal registrasi nasional berlangsung pada 1 Juni hingga 10 Juli. Selanjutnya, pada 11–14 Juli dilaksanakan bimbingan teknis mengenai penggunaan alat sederhana berupa lot pembayang serta penyamaan standar waktu nasional. Puncak kegiatan berlangsung pada 15 dan 16 Juli melalui pengamatan serentak di seluruh Indonesia. Setelah pelaksanaan, peserta diminta mengunggah dokumentasi hasil verifikasi untuk memperoleh sertifikat digital resmi.
Portal Indonesia Berkiblat juga menyediakan panduan praktis agar masyarakat dapat mengikuti kegiatan dengan benar. Peserta cukup menyiapkan tongkat atau benda yang benar-benar tegak di atas permukaan datar, memastikan jam telah sesuai dengan waktu standar, kemudian menandai arah bayangan tepat pada waktu Rashdul Qiblat. Garis yang ditarik dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat menjadi arah kiblat yang akurat menurut kaidah ilmu falak.
“Melalui Gerakan 1.448.000 Verifikasi Arah Kiblat Nasional kami ingin mengajak masyarakat memastikan arah kiblat secara mudah dan akurat dengan memanfaatkan fenomena alam yang telah lama dikenal dalam tradisi ilmu falak,” ujar Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, saat peluncuran Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat di Jakarta (23/6/26). Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari edukasi publik dalam memperkuat kualitas layanan keagamaan.
Arsad menjelaskan bahwa arah kiblat memiliki makna penting sebagai simbol persatuan umat Islam yang menghadap titik yang sama, yakni Ka’bah. Karena itu, pemanfaatan fenomena astronomi untuk memastikan arah kiblat dinilai menjadi bentuk integrasi antara ilmu pengetahuan dan praktik keagamaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Fenomena ini akan terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 sekitar pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA. Masyarakat cukup menyiapkan benda yang berdiri tegak lurus, kemudian mengamati arah bayangannya pada waktu tersebut untuk mengetahui arah kiblat,” ujar Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kementerian Agama, Ismail Fahmi, saat sosialisasi Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat di Jakarta (23/6/26). Penjelasan tersebut menjadi dasar ilmiah pelaksanaan verifikasi serentak di seluruh Indonesia.
Di berbagai daerah, persiapan juga mulai dilakukan. Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, menargetkan sedikitnya 38.400 titik verifikasi arah kiblat. Seluruh jajaran KUA, penghulu, penyuluh agama, madrasah, serta takmir masjid dilibatkan untuk memperluas edukasi kepada masyarakat sekaligus memastikan target nasional dapat tercapai.
Kepala Kanwil Kementerian Agama DIY Ahmad Bahiej menilai memastikan arah kiblat bukan hanya pekerjaan teknis, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas pelaksanaan ibadah. Karena itu, momentum Rashdul Qiblat diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat secara maksimal sekaligus meningkatkan minat terhadap kajian ilmu falak sebagai bagian dari khazanah keilmuan Islam.
Bagi masyarakat, manfaat gerakan ini cukup nyata. Verifikasi arah kiblat dapat dilakukan tanpa biaya besar, cukup menggunakan tongkat, permukaan datar, dan waktu yang akurat. Metode tersebut dapat diterapkan untuk memastikan arah salat di rumah, musala lingkungan, sekolah, hingga masjid yang belum pernah diverifikasi secara ilmiah.
Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat memperlihatkan bagaimana fenomena astronomi dapat dimanfaatkan untuk pelayanan keagamaan yang lebih baik. Dengan melibatkan jutaan titik pengamatan di seluruh Indonesia, program ini tidak hanya memperkuat akurasi arah kiblat, tetapi juga menghidupkan kembali literasi ilmu falak di tengah masyarakat sebagai pengetahuan yang aplikatif dan mudah dipraktikkan.
