Banyuwangi – Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Banyuwangi, H. Hasan Basri, membeberkan permasalahan nelayan di Muncar Banyuwangi saat ini. Menurutnya, selama bulan Oktober, Banyuwangi mengalami cuaca ekstrem.
“Ya selama bulan ini cuaca ekstrem melanda Muncar Banyuwangi,” ungkap Hasan Basri saat ditemuai media ini di dermaga Muncar Banyuwangi, Senin (17/10/2022).
Selain itu, sumber daya ikan (SDI) di Selat Bali mulai berkurang. Menurutnya, diduga terganggunya ekosistem laut. Sehingga, ikan banyak berkurang. Imbasnya, nelayan harus melaut lebih jauh lagi.
“Armadanya siang malam yang selalu menguras SDInya. Sehingga ikan banyak berkurang. Seharusnya ada kebijakan memberikan kepada laut untuk tenang,” ujarnya.
Menurutnya, hasil tangkapan ikan nelayan di Muncar cenderung turun dalam beberapa dekade terakhir. Dari darat banyak penumpukan sampah yang mencemari laut.
“Dulu waktu saya kecil banyak ikan masuk ke pantai, ke sungai-sungai. Sekarang alamnya sudah rusak, banyak sampah di mana-mana,” terangnya.
Dampak naiknya harga BBM paling dirasakan para nelayan di pesisir Muncar. Biaya melaut melonjak, sedangkan tangkapan ikan cenderung sepi. Tak sedikit nelayan yang memilih libur melaut. Ada juga nelayan yang beralih ke profesi lain.
“Dulu, nelayan sudah bisa dapat ikan hanya dengan melaut sekitar 1 mil. Sekarang, minimal 5 mil. Tentunya, biaya operasional bertambah dengan naiknya harga BBM,” imbuhnya.
Selama ini, nelayan menggunakan perahu 5 GT dengan konsumsi BBM minimal 45 liter. Padahal, hasil tangkapan ikan tidak bisa dipastikan. Tak jarang, nelayan justru merugi.
“Terkadang, nelayan pulang dengan tangan kosong. Padahal, sudah keluar biaya BBM dan operasional. Ya kira-kira 7 sampai 10 juta biaya yang harus dikeluarkan,” tandasnya.
