Kediri – Bagi sebagian orang, kantor polisi identik dengan penegakan hukum dan ketegasan. Namun di tangan Aipda Firman Wahyu Tama, seragam kepolisian justru menjadi jembatan untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Bak menyalakan lilin di tengah gelapnya berbagai persoalan sosial, anggota Polres Kediri Kota itu memilih menghadirkan ruang pembinaan yang memadukan dakwah, pendidikan karakter, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pria berusia 46 tahun yang bertugas di Divisi Sipropam Polres Kediri Kota tersebut dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menjalankan tugas, namun tetap humanis dan mudah berbaur dengan warga. Kedekatan itulah yang kemudian melahirkan berbagai kegiatan yang tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan ekonomi masyarakat.
Berawal dari keprihatinannya melihat masih banyak warga yang belum mendapatkan pembinaan keagamaan maupun kesempatan mengembangkan diri, Firman bersama sejumlah tokoh agama dan pelaku usaha berinisiatif membangun wadah yang terbuka bagi berbagai kalangan.
“Banyak warga yang membutuhkan pendampingan, terutama anak-anak muda. Karena itu kami berusaha turun ke masyarakat dan menyediakan ruang yang bisa menjadi tempat belajar, berdiskusi, dan berkembang bersama,” ujarnya.

Setiap Senin, Firman bersama para tokoh agama dan sejumlah pengusaha menggelar kegiatan halaqah yang diikuti berbagai kalangan. Mulai dari generasi muda, pekerja, buruh, pelaku usaha, hingga para pensiunan TNI dan Polri berkumpul dalam suasana yang penuh keakraban tanpa sekat status sosial.
Salah satu kegiatan yang telah berlangsung hampir empat tahun adalah Majelis Jaringan Ngaji Keluarga bersama Gus Kevin Al Ishaqi dari Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri. Forum tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus pembinaan spiritual yang diikuti jamaah dari berbagai daerah.
Tidak hanya dari Kediri, para peserta datang dari Jombang, Nganjuk, Blitar, Tulungagung, Trenggalek hingga Malang. Keberagaman latar belakang profesi dan usia justru menjadi kekuatan yang mempererat kebersamaan di dalam majelis tersebut.
Selain Majelis Jaringan Ngaji Keluarga, Firman juga terlibat dalam Halaqah Semesta Muhammad bersama Ahmad Junaidi yang mulai berjalan dalam beberapa bulan terakhir. Kehadiran forum tersebut semakin memperluas ruang pembelajaran bagi masyarakat yang ingin memperkuat sisi spiritual sekaligus mengembangkan diri.
Yang menarik, kegiatan tersebut tidak hanya berisi kajian agama sebagaimana pengajian pada umumnya. Sebelum kajian dimulai, para peserta terlebih dahulu mengikuti sesi mentoring dan edukasi yang membahas berbagai persoalan kehidupan, mulai dari pembentukan karakter, pengembangan usaha hingga solusi terhadap masalah ekonomi.
“Setelah ngaji, kami tidak langsung pulang. Ada diskusi bisnis, mentoring usaha, berbagi pengalaman, bahkan makan bersama. Jadi ada sedekah ilmu dan sedekah kepedulian,” tutur Firman.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang memiliki semangat berwirausaha namun belum mempunyai akses terhadap pembelajaran dan pendampingan yang memadai. Karena itu, forum tersebut diharapkan menjadi tempat bertumbuh bagi siapa saja yang ingin maju dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Perhatian Firman terhadap pemberdayaan ekonomi juga diwujudkan melalui pembinaan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sejumlah pelaku usaha yang mendapatkan pendampingan bahkan telah berhasil memasarkan produknya hingga ke pasar internasional.
Produk yang berhasil menembus pasar ekspor tersebut cukup beragam, mulai dari makanan olahan, furnitur, minyak kelapa, hingga arang briket berbahan tempurung kelapa. Baginya, kemandirian ekonomi merupakan salah satu fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang produktif.
“Kami ingin anak-anak muda lebih banyak berkarya dan memiliki kegiatan positif. Dengan begitu mereka memiliki masa depan yang lebih baik dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya,” katanya.
Firman mengungkapkan, seluruh kegiatan tersebut berawal dari sebuah basecamp sederhana yang selama ini menjadi tempat masyarakat mencurahkan berbagai persoalan. Mulai dari masalah ekonomi keluarga, usaha, hingga persoalan hukum kerap disampaikan kepadanya.
Dari tempat sederhana itulah lahir gagasan untuk menghadirkan pendampingan yang lebih menyeluruh dengan melibatkan para ulama dan guru sebagai pembimbing spiritual masyarakat.
“Kalau hanya menyelesaikan masalah, selesai saat itu juga. Tapi setelah itu mereka mau ke mana? Karena itu perlu ada pembinaan dari sisi agama dan karakter,” jelasnya.
Firman meyakini bahwa segala pencapaian yang diraihnya dalam kehidupan dan dunia usaha tidak lepas dari pertolongan Allah SWT. Kesadaran tersebut menjadi motivasi baginya untuk terus berbagi dan memberikan manfaat kepada sesama.
“Meski manfaat yang diberikan kecil, tidak apa-apa. Yang penting masih bisa memberi manfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Sebagai anggota Polri, Firman berharap kegiatan pengajian, mentoring, dan pemberdayaan UMKM yang dijalankannya dapat menjadi bagian dari ikhtiar membangun masyarakat yang religius, mandiri, dan memiliki daya saing. Baginya, menjaga keamanan tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum, tetapi juga dengan menumbuhkan harapan dan membuka jalan bagi masyarakat untuk berkembang bersama.
