Malang – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) memperingati Coral Triangle Day (CT Day) 2026 melalui kegiatan edukasi dan konservasi yang diselenggarakan pada 8 Juni 2026 di Marine Station FPIK UB. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap peringatan Coral Triangle Day yang diperingati setiap 9 Juni dan tahun ini mengusung tema “Advancing Ocean Stewardship for a Resilient Blue Coral Triangle” atau “Meningkatkan Tata Kelola Laut untuk Segitiga Karang Biru yang Tangguh”.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, alumni Ilmu Kelautan FPIK UB, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya, komunitas konservasi SC Acropora, hingga Fisheries Diving Club (FishDic). Kolaborasi lintas pemangku kepentingan ini menjadi bentuk nyata penguatan kesadaran dan aksi bersama dalam menjaga ekosistem terumbu karang Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, dosen Ilmu Kelautan FPIK UB, Oktiyas Muzaky Luthfi, S.T., M.Sc., menyoroti kondisi terumbu karang di Pulau Sempu yang saat ini menghadapi tekanan cukup serius. Berdasarkan hasil pengamatan yang disampaikan, rata-rata tutupan karang hidup di kawasan tersebut telah berada di bawah 25 persen.
“Pulau Sempu menyimpan kekayaan karang yang luar biasa, tetapi kondisinya saat ini cukup mengkhawatirkan. Rata-rata tutupan karang hidupnya kurang dari 25 persen, sehingga membutuhkan perhatian dan upaya konservasi yang lebih kuat,” ujar Oktiyas.
Meski menghadapi ancaman, kawasan Pulau Sempu masih menyimpan berbagai spesies karang unik dan bernilai ekologis tinggi. Salah satunya adalah koloni karang api (fire coral) berukuran raksasa yang dapat mencapai diameter sekitar 10 meter. Selain itu, kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai jenis karang biru dan kelompok karang Porites dengan keragaman spesies yang tinggi.
“Kami masih menemukan koloni karang yang sangat menarik, termasuk giant colony dari karang api, berbagai jenis karang biru, serta keragaman spesies Porites yang sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa Pulau Sempu masih memiliki nilai konservasi yang sangat penting,” jelasnya.

Coral Triangle Day sendiri merupakan momentum internasional untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya kawasan Segitiga Karang yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Kawasan ini berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan, ekonomi masyarakat pesisir, serta ketahanan iklim global. Namun demikian, kawasan Segitiga Karang terus menghadapi berbagai ancaman seperti perubahan iklim, pencemaran laut, eksploitasi sumber daya yang berlebihan, dan pembangunan pesisir yang tidak berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, FPIK UB kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan dan riset yang aktif mendorong penguatan tata kelola laut berbasis ilmu pengetahuan, peningkatan kapasitas generasi muda, serta kolaborasi multipihak dalam mendukung konservasi sumber daya kelautan.
Kegiatan peringatan Coral Triangle Day 2026 ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14 tentang Ekosistem Laut, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi konservasi laut, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.
