Jember – Pergantian kepemimpinan di Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Perkebunan Kahyangan Jember berlangsung tanpa gemerlap. Di tengah tantangan perusahaan yang masih menghadapi berbagai persoalan, direksi baru memilih jalan sederhana dalam prosesi serah terima jabatan (sertijab), seolah menjadi pesan simbolik bahwa pembenahan harus dimulai dari kepekaan terhadap kondisi pekerja di lapangan.
Sertijab direksi baru Perumda Kahyangan digelar beberapa hari setelah pelantikan oleh Bupati Jember Muhammad Fawait pada Kamis (13/5/2026). Tiga pejabat baru yang mengisi jajaran direksi ialah Gogot Cahyo Baskoro sebagai Direktur Utama, Dima Akhyar sebagai Direktur Umum dan Keuangan, serta Nyoman Aribowo sebagai Direktur Produksi dan Pemasaran. Acara tersebut juga dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Ratno C. Sembodo, Pelaksana Tugas Direktur Utama sebelumnya Danang Andri Asmara, beserta staf dan karyawan perusahaan daerah tersebut.
Direktur Utama Perumda Kahyangan, Gogot Cahyo Baskoro, mengatakan dirinya secara khusus meminta agar acara sertijab tidak dikemas secara berlebihan. Menurutnya, suasana pesta tidak elok dilakukan ketika kondisi kesejahteraan buruh perkebunan masih jauh dari harapan.
“Acara ini saya minta sederhana. Makanannya cukup kotakan, tidak perlu prasmanan atau live musik. Saya ingin menjaga perasaan para buruh yang nasibnya masih jauh dari sejahtera,” tegas Gogot.
Bagi Gogot, jabatan baru bukan alasan untuk berpuas diri. Ia menilai amanah tersebut justru menjadi tantangan besar untuk membuktikan bahwa Perumda Kahyangan masih memiliki peluang bangkit dari persoalan internal yang selama ini membelit perusahaan. Mulai dari tata kelola, produktivitas kebun, hingga efisiensi operasional menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.
“Terus terang saya belum bangga kalau belum bisa membuktikan sesuatu untuk PDP. Banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi,” ujarnya.
Pria yang mengaku mengikuti perjalanan Perumda Kahyangan selama sekitar dua dekade itu menyebut dirinya memahami sejumlah persoalan mendasar perusahaan. Bahkan, ia menyoroti minimnya fasilitas kerja, termasuk ruang direksi yang dinilai belum representatif untuk mendukung aktivitas profesional maupun menerima tamu kerja.
“Saya lihat sendiri ruang direksi furniturnya nyaris tidak ada. Kalau ada tamu mau ngobrol bagaimana? Ini bukan meminta fasilitas mewah, tapi standar kerja memang harus ada,” katanya.
Meski demikian, Gogot memastikan upaya pembenahan fasilitas dasar tidak akan menjadi beban tambahan bagi perusahaan. Ia menegaskan kebutuhan awal kerja direksi akan diupayakan secara mandiri menggunakan dana pribadi.
“Apa yang menunjang aktivitas kami, insyaallah kami modal sendiri,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gogot turut mengapresiasi Danang Andri Asmara yang dinilai berhasil menjaga stabilitas perusahaan selama masa transisi kepemimpinan berlangsung. Menurutnya, upaya tersebut menjadi fondasi penting bagi direksi baru untuk melanjutkan langkah perbaikan.
“Kita doakan semoga menjadi amal jariyah beliau,” katanya.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Ratno C. Sembodo menilai komposisi tiga direksi baru dapat menjadi kekuatan untuk mempercepat pemulihan perusahaan. Ia menegaskan Perumda Kahyangan tidak bisa lagi bergerak dengan pola lama jika ingin keluar dari tekanan yang dihadapi saat ini.
“Rutinitas dan zona nyaman adalah musuh dalam kondisi perusahaan seperti sekarang. Harus ada inovasi dan langkah out of the box,” ujarnya.
Ratno menyebut masing-masing direksi memiliki kapasitas berbeda yang dinilai saling melengkapi. Nyoman dikenal sebagai praktisi dan motivator, Dima memiliki kekuatan dalam tata kelola keuangan, sementara Gogot dianggap memiliki pengalaman manajerial yang dapat memperkuat arah kebijakan perusahaan.
Ke depan, direksi baru juga mulai menyiapkan diversifikasi usaha agar perusahaan tidak hanya bertumpu pada penjualan komoditas mentah seperti kopi dan karet. Pengembangan produk kopi premium hingga sektor wisata berbasis perkebunan disebut menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pendapatan perusahaan sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Di tengah munculnya wacana penutupan perusahaan daerah tersebut, direksi baru menegaskan Perumda Kahyangan justru harus diselamatkan dan dibangun menjadi perusahaan yang sehat, produktif, serta mampu meningkatkan kesejahteraan para buruh dan karyawan.(ADV).
