Lamongan – Di tengah derasnya arus modernitas dan perkembangan teknologi astronomi, warisan keilmuan klasik pesantren tetap berupaya menemukan ruang pijaknya. Seperti bintang penunjuk arah di malam gelap, metode falak tradisional kembali dibedah dalam forum ilmiah yang mempertemukan para kiai, pakar falak, hingga santri di Kabupaten Lamongan, Kamis (14/5/2026).
Lembaga Falakiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LF PCNU) Lamongan menggelar Halaqah Falakiyah bertema “Menyikapi Dinamika Hisab Rukyat, Penguatan Fiqih Falakiyah & Relevansi Metode Taqribiy di Tengah Arus Modernitas” di Pondok Pesantren Roudlotul Qur’an Tlogo Anyar, Lamongan. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB itu diikuti sekitar 150 peserta dari unsur pengurus MWCNU, lembaga NU, serta para santri dari berbagai wilayah di Kabupaten Lamongan.
Forum tersebut dibuka oleh jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Lamongan bersama tokoh agama setempat. Dalam sambutannya, Ketua PCNU Lamongan menekankan pentingnya kader falak Nahdlatul Ulama memahami dinamika hisab rukyat secara komprehensif agar mampu menjawab persoalan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, pemahaman yang utuh tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis menghitung, tetapi juga penguasaan landasan fiqih falakiyah.
Kajian dalam halaqah itu membedah tiga materi utama yang dinilai relevan dengan dinamika penentuan kalender Hijriah saat ini. Materi pertama disampaikan Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur, Syamsul Ma’arif, SH., MH., yang membahas tantangan hisab rukyat di Jawa Timur. Ia menguraikan berbagai hambatan pelaksanaan rukyat, mulai dari kondisi cuaca, polusi cahaya, hingga perbedaan pendekatan perhitungan astronomi di sejumlah lembaga.
Materi kedua dipaparkan oleh Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Timur, KH. Asyhar Shofwan, yang mengulas fiqih penetapan awal bulan Hijriah di lingkungan Nahdlatul Ulama, khususnya menyikapi polemik awal Syawwal 1447 Hijriah. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa metode hisab taqribiy tetap diposisikan sebagai alat bantu yang melengkapi proses rukyat bil fi’li, bukan menggantikan peran pengamatan langsung hilal.
Sementara itu, KH. Khoirul Anam, S.Ag., M.Ag., dalam materi ketiga menyoroti relevansi metode hisab taqribiy berbasis kitab klasik Sullamun Nayyirain di tengah perkembangan metode falak modern. Ia menegaskan pentingnya menjaga tradisi intelektual pesantren sekaligus menghormati hasil Sidang Itsbat Pemerintah Republik Indonesia demi menjaga persatuan umat Islam.
“Forum seperti ini penting agar santri falak tidak hanya bisa menghitung, tetapi juga memahami dasar fiqih dan sikap organisasi NU. Sehingga tidak mudah terpengaruh arus perbedaan yang tidak berdasar,” ujar salah satu peserta dari MWCNU Tikung.
Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Para peserta tampak aktif mengikuti sesi tanya jawab, terutama saat membahas dinamika penetapan awal Syawwal 1447 Hijriah dan posisi metode taqribiy dalam praktik falak kontemporer. Forum kemudian ditutup pada Kamis (14/5/2026) siang dengan ramah tamah bersama pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Qur’an Tlogo Anyar.
Melalui kegiatan ini, LFNU PCNU Lamongan berharap literasi falakiyah di kalangan kader dan masyarakat semakin menguat, sekaligus menjadi jembatan antara khazanah keilmuan klasik pesantren dengan perkembangan ilmu falak modern yang terus bergerak dinamis.
