Malang – Seperti arus laut yang mempertemukan benda dari berbagai penjuru, Universitas Brawijaya (UB) kembali mengalirkan gagasan risetnya ke panggung global melalui program Match Making Research Interest di Jepang.
Program tersebut menjadi wadah strategis bagi peneliti UB untuk bertemu dengan mitra internasional yang memiliki kesamaan fokus kajian. Melalui skema ini, UB berupaya memperluas akses kolaborasi riset, memperkuat jejaring akademik lintas negara, serta mendorong lahirnya publikasi bereputasi internasional dan peluang hibah riset global.
Sebagai bagian dari agenda itu, Prof. Defri Yona dari Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB, melakukan kunjungan akademik ke Research Institute for Applied Mechanics (RIAM), Kyushu University, Jepang, pada Senin (6/4/2026) hingga Jumat (10/4/2026). Kunjungan ini difokuskan untuk membuka dan memperdalam kerja sama riset di bidang pencemaran laut, khususnya dinamika sampah plastik.
Dalam forum akademik tersebut, Prof. Defri memaparkan profil UB dan FPIK, sekaligus menjelaskan peluang kerja sama riset, publikasi bersama, dan penyusunan proposal hibah internasional. Ia juga menyampaikan agenda penelitian mengenai usia pakai serta potensi perpindahan sampah plastik kemasan sebelum berubah menjadi mikroplastik.
“Konsep penelitian ini mengintegrasikan data lapangan berbasis time-stamped plastic debris dengan pendekatan numerical ocean modelling,” demikian gagasan utama yang dipresentasikan dalam kunjungan tersebut.
Pendekatan itu dinilai penting karena mampu memberikan gambaran lebih utuh mengenai perubahan waktu dan sebaran ruang sampah plastik di laut. Selama ini, dinamika sampah plastik masih menjadi tantangan besar dalam kajian pencemaran laut, terutama sebelum material tersebut terfragmentasi menjadi mikroplastik.
Kegiatan ini juga diwarnai diskusi intensif bersama Prof. Atsuhiko Isobe dan tim peneliti RIAM yang memiliki kepakaran dalam pemodelan oseanografi dan transport sampah laut. Dari pertemuan itu, kedua pihak mencapai kesepahaman awal untuk menggabungkan kekuatan riset lapangan UB dengan kemampuan pemodelan numerik Kyushu University.
Sebagai tindak lanjut, UB dan Kyushu University mulai menjajaki penyusunan Memorandum of Agreement (MoA) sebagai dasar kerja sama jangka panjang. Dokumen formal ini diharapkan menjadi pijakan bagi kolaborasi berkelanjutan, termasuk publikasi ilmiah dan pengajuan hibah riset internasional.
Inisiatif ini sekaligus memperkuat komitmen UB dalam meningkatkan daya saing global, mendukung Indikator Kinerja Utama terkait kolaborasi internasional, serta berkontribusi pada SDG 14 tentang ekosistem laut dan SDG 17 tentang kemitraan global.
