Malang – Di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap mengikis identitas lokal, seorang mahasiswi justru tampil sebagai penjaga warisan budaya. Prestasi itu datang dari panggung bergengsi tingkat provinsi, mengukuhkan peran generasi muda sebagai garda depan pelestarian tradisi.
Adalah Priscilla Aurelia Cahyani, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), yang berhasil meraih Juara 1 Putri Kebudayaan Jawa Timur 2026 dalam ajang Putra Putri Kebudayaan Jawa Timur 2026. Kompetisi tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur, yang bersaing dalam aspek pengetahuan budaya, kemampuan komunikasi, serta peran sebagai duta budaya.
Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi lingkungan akademik Universitas Brawijaya, khususnya FPIK UB. Keberhasilan Priscilla dinilai mencerminkan kualitas mahasiswa yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga aktif berkontribusi dalam ranah sosial dan budaya.
Dekan FPIK UB, Asep Awaludin Prihanto, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.
“Capaian ini menunjukkan bahwa mahasiswa FPIK UB tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berperan aktif dalam pelestarian budaya daerah. Ini menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi harus mendorong pengembangan mahasiswa secara holistik,” ujarnya.
Priscilla sendiri menekankan bahwa gelar yang diraihnya bukan sekadar simbol prestasi, melainkan amanah besar dalam menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.
“As a young representative of East Java, I believe culture is not just a heritage but it’s our identity. Being able to take part in promoting our culture is something I’m truly proud of, because I’m not only preserving it, I’m helping it live, grow, and be seen,” ungkapnya.
Ajang Putra Putri Kebudayaan Jawa Timur dikenal sebagai wadah strategis dalam membentuk generasi muda yang memiliki karakter, kepemimpinan, dan kemampuan komunikasi yang kuat. Tidak hanya berfokus pada kompetisi, kegiatan ini juga mendorong peserta menjadi agen promosi budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk melalui pemanfaatan media digital.
Kepala Subbagian Akademik FPIK UB, Wiwin Lukitohadi, berharap capaian ini mampu menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan potensi diri di berbagai bidang.
“Prestasi ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk terus berkembang, baik secara akademik maupun non-akademik, sekaligus mengangkat citra institusi,” tuturnya.
Keberhasilan ini menegaskan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan pelestarian budaya dalam menciptakan generasi muda yang kompetitif secara global, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai lokal.
